Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tempe Indonesia Semakin Populer di Amerika

📅 Rabu, 23 Mar 2022, 13:23 WIB | Oleh:
Tempe Indonesia Semakin Populer di Amerika Doc: VoA

WASHINGTON DC - Seiring dengan semakin berkembangnya tren vegetarian dan vegan, semakin banyak pula anggota masyarakat yang ingin beralih pada makanan sehat berbasis nabati. Tren demikian memungkinkan semakin lebarnya peluang untuk memperkenalkan dan memperluas pasar tempe yang memiliki cita rasa, warna, aroma, dan tekstur seperti yang biasa ditemukan di Indonesia. Karena kerinduan akan tempe otentik Indonesia dan prospek popularitas yang semakin berkembang itulah, beberapa anggota diaspora Indonesia membuka usaha sebagai pengusaha tempe di Amerika.

Pembuatan tempe di belahan bumi utara seperti di Amerika sangat menantang karena empat musim dengan cuaca ekstrem, terutama selama musim dingin ketika kelembaban tidak menentu dan suhu udara sering mencapai titik di bawah nol derajat Celsius. Namun, tempe menjanjikan bisnis yang prospektif, terutama di tempat-tempat di mana terdapat konsentrasi diaspora Indonesia dan seiring dengan tren semakin banyaknya warga Amerika yang ingin berpaling dari daging ke sumber protein berbasis tanaman (nabati) atau bahkan menjadi vegan dan vegetarian. Oleh karena itu semakin banyak pula anggota diaspora Indonesia yang terjun ke bisnis pembuatan tempe.

Di Kota Somersworth, New Hampshire di kawasan Timur Laut Amerika, dua pasang diaspora Indonesia menekuni bisnis ini sebagai aktivitas sampingan selain tetap menjalani profesi utama masing-masing. Mereka adalah Daniel Kurnianto bersama istrinya Meylia Tio, dan Octavianus Asoka bersama istrinya Aristiya Dwiyanti.

Daniel dan Meylia adalah pelopor bisnis ini, yang konon dimulai secara kebetulan karena kerinduan mereka akan tempe dengan cita rasa otentik Indonesia. Daniel yang adalah insinyur desain otomasi laboratorium, dan Meylia yang bergelar Master bidang pendidikan tinggi, terus mencoba resep dan melakukan berbagai percobaan.

Keuletan itu tidak sia-sia karena kemudian ditermukan formula yang pas untuk tempe dengan warna, rasa, aroma dan tekstur seperti yang biasa ditemukan di pasar-pasar di Indonesia. Alhasil, diproduksilah tempe dengan merek BOSTempeh, singkatan dari "Boston tempeh" ("tempe Boston") karena bisnis ini berawal di Kota Boston, Massachusetts.

Octavianus yang berlatar belakang pendidikan bidang manufaktur makanan bertanggung jawab pada proses pembuatan tempe, sementara Aristiya yang bergelar Sarjana desain grafis dan berprofesi sebagai fotografer bertanggung jawab pada desain produk dan pengemasannya.

"Awalnya kenapa bikin itu karena partner saya yang mulai, namanya Daniel dan Meylia. Mereka cari tempe di US cuma yang rasanya lokal itu tidak ada. Jadi mereka kalau beli di supermarket adanya yang rasanya rada pahit. Jadi mereka coba belajar bikin sendiri dan membikin alat-alatnya sendiri, terus resepnya sendiri, dan belajar dari Indonesia juga. Akhirnya ya tambah besar saja, terus mulai mencoba mass produce. Jadi tahun 2020 kami bantu mereka buat mass produce (produksi dalam jumlah besar)."

Aristiya Dwiyanti menimpali bahwa binis tempe di Amerika cukup menjanjikan. "Kalau kita lihat di market sekarang, tren untuk vegan atau vegetarian itu semakin tahun trennya memang semakin naik. Jadi, ada data juga yang memperlihatkan kalau konsumsi tahu tempe itu setiap tahun memang semakin naik. Nah, karena itu, kita lihat ini kesempatan yang bagus untuk tempe Indonesia bisa masuk pasar Amerika. Prospek jangka panjangnya yang bagus," jelas dia.

Di kawasan Barat Tengah Amerika, di kota kecil Greensburg di Indiana juga berdiri sebuah pabrik tempe yang diprakarsai oleh seorang diaspora Indonesia Mayasari Effendi bersama suaminya Richard Mays. Maya, yang datang ke Amerika pada 2004 untuk menempuh studi ilmu komputer di Universitas Purdue di West Lafayette, Indiana, tetapi kemudian pindah ke jurusan manajemen di kampus yang sama, memulai bisnis satu-satunya restoran Indonesia di kota kecil Greensburg, Indiana, pada 2012 dengan nama Mayasari Indonesian Grill. Kecintaan Maya pada hobi masak makanan asli Indonesia mebuatnya mendambakan cita rasa makanan dari tanah air, terutama tempe yang otentik.

Dari kerinduan akan tempe itu pula Maya kemudian membuatnya sendiri, bahkan jauh sebelum membuka restorannya. Maya juga memasukkan tempe dalam daftar menu di restorannya. Memang, tempe tidak lalu serta-merta diterima oleh masyarakat setempat, tetapi upaya promosi dan edukasi yang dilakukannya terus menerus akhirnya berbuah.

Kini, banyak orang di Greensburg yang sebelumnya asing dengan tempe dan selama hidup terbiasa dengan steak akhirnya bersedia mencoba hidangan tempe yang ditawarkan dalam berbagai sajian. Maya mengatakan, "sebagian warga bahkan bahkan jatuh cinta dengan sumber protein nabati luar biasa yang penuh nutrisi itu."

Maya mengatakan sangat beruntung karena tinggal di daerah pertanian kedelai di Indiana. Dia bisa mendapatkan kedelai organik berkualitas tinggi dari ladang keluarga di belakang rumahnya sendiri. Dengan kemudahan mendapatkan bahan itulah, dibarengi dengan penerimaan warga sekitar, Maya mulai menekuni pembuatan tempe. Toko-toko Asia di Indiana juga tertarik untuk membeli dan menjual tempe produksi Maya yang diberi label Mayasari Tempeh.

"Kami mulai buka restoran pada 2012. Nah, dari situ juga sudah mulai ada di tempe, cuma orang-orang masih pada takut di daerah karena kan daerah sini itu jauh dari mana-mana. Orang sini kebanyakan makannya steak dan potatoes (kentang), tapi tahu-tahu ada restoran Indonesia, ada tempenya. Tapi mulai 7 tahun yang lalu, orang-orang sudah mulai kenal tempe, dan makin populer itu setelah 5 tahun belakangan saja. Tadinya kami cuma bikin untuk di restoran saja, tapi lama-lama kok jadi makin banyak peminat. Akhirnya suami saya mutusin buka ruagan untuk tempe, tapi tidak cukup juga. Akhirnya kami buka pabrik," tutur dia.

Senada dengan pendapat Octavianus dan Aristiya, Maya juga melihat pasar tempe yang prospektif. Dia mengaku permintaan Tempe Mayasari terus meningkat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Bursa Tokyo Berhasil Bangkit ke Zona Hijau

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Bursa Tokyo Berhasil Bangki...
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...
  • Kementan Bantu Bibit Kelapa untuk Petani Barito Kuala, Produktivitas Perkebunan Ditingkatkan.
    Preview komentar:
    Di barisan paling depan, Kementerian Pertanian memainkan ...
    Keren
  • Penutupan Perlintasan Liar Kereta di Kediri
    Preview komentar:
    Wah, berarti kalau sehari hari kan lewat perlintasan ...
Waduhhh…Kasat Narkoba Tangsel Diringkus Bareskrim

Waduhhh…Kasat Narkoba Tangsel Diringkus Bareskrim

27 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.