Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Chairul Anwar Nidom : Pemerintah Perlu Meminta Virus Covid-19 untuk Penelitian

📅 Sabtu, 29 Feb 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Apa yang harus dilakukan pemerintah?

Sebagai bahan penelitian vaksin, perlu ada spesimen (dahak dan ludah) WNI yang tertular di Singapura atau kapal pesiar, bahkan mahasiswa yang pulang dari Wuhan, untuk menemukan perbedaan. Pemerintah layak melobi negara lain. Seharusnya Indonesia yang secara geografis berpotensi terjangkau Covid perlu meminta virusnya sebagai bagian mencegah penularan, sekaligus menemukan vaksinnya. Pencegahan lewat vaksin, jauh lebih murah daripada pengobatan.

Bisa dijelaskan khasiat empon-empon?

Meski belum teruji klinis karena virusnya kami belum punya, tapi empon-empon ini sudah teruji mengatasi infeksi flu burung. Saat menginfeksi paru-paru mengeluarkan berbagai macam sitokin. Sitokin Covid ini hampir mirip, sehingga ekstrapolasinya bisa digunakan untuk mengendalikan Covid, hanya belum teruji. Secara konsumsi ada yang namanya nutrigenomik, makanan dari alam di suatu lingkungan yang mendukung kesehatan orang di wilayah itu.

Epigenetik adalah suatu lingkungan yang bisa mengganggu nutrigenomik. Dengan nutrigenomik yang ada di Indonesia, rempah seperti empon-empon ini adalah yang disediakan alam. Ada ikatan nutrigenomik dengan manusia atau etnik yang hidup di wilayah itu. Perubahan pola makan akan mengganggu kesehatan diri kita, menjadi epigenetik. Tapi, saya melihat kebiasaan atau penggunaan jahe dan sebagainya ini tidak banyak berubah.

Walaupun dalam bentuk masakan atau minuman penyegar.

Apa itu sitokin?

Virus masuk ke sel paru dan berkembang. Lalu, sebagai reaksi di sel itu terbentuk sitokin. Kemudian sel pecah, virus dan sitokin keluar. Karena ada oksigen maka banyak radikal bebas. Sitokin menjadi oksidan memecah sel-sel lain. Saat itu terjadi, sitokin terus bertambah sehingga berlebihan. Ini yang kemudian fatal. Maka konsepnya empon-empon membendung sitokin dengan kurkumin dari jahe, sedangkan virusnya dicegah dengan vaksin.

Bila sitokin dibendung, apa tidak melemahkan sistem pertahanan paru?
Itu pentingnya penelitian untuk menentukan formulasi agar dosisnya seimbang. Selama ini tingkat konsumsi yang umum dilakukan masyarakat sudah benar, dilakukan apa adanya saja. Kalau khusus terindikasi penyakit tertentu, baru membutuhkan formulasi yang tepat, sesuai yang dihasilkan industri bekerja sama dengan para dokter.

Mengapa banyak pasien yang bisa sembuh di Tiongkok?

Virus ini ada dua macam, yang bersifat low pathogenic (jinak) dan yang high pathogenic (ganas). Yang tinggi harapan sembuh adalah yang terinfeksi low pathogenic dengan gejala batuk dan demam, belum menyerang paru. Tapi uniknya kecepatan penyebarannya sangat tinggi.

Ada juga jenis sebuah virus yang punya dua reseptor (ganas dan jinak). Jadi, setelah berkembang cukup banyak di reseptor atas (tenggorokan), lalu turun ke resptor di paru-paru. Tapi, itu perlu penelitian lebih lanjut. Sementara kita sekarang virusnya saja belum ada, apa yang diteliti. Jadi, spesimen pasien terinfeksi ini penting karena bisa memotret banyak hal, apakah sudah bermutasi ke tahap multy ethnic reseptor, numpang infeksi kuman lain, dan sifat pathogenic-nya.

Penelitian menemukan reseptor ini untuk pencegahan. Bila kita menemukan Covid bisa masuk karena numpang kuman lain, dicocokkan dengan tiga WNI yang di kapal. Sehingga terbukti apakah orang Indonesia bisa terinfeksi atau tidak, untuk pencegahan juga untuk perbendaharaan internasional, karena kita mampu. Kita tidak boleh berpangku tangan dalam bencana kemanusiaan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Megapolitan
Pemprov DKI Gencarkan Hujan...
Luar Negeri
WFP Peringatkan El Nino Bis...

Roket SpaceX Tabrak Bulan Besok, Ilmuwan Prediksi Semburan Debu Raksasa Terlihat dari Teleskop

Roket SpaceX Tabrak Bulan Besok, Ilmuwan Prediksi Semburan Debu Raksasa Terlihat dari Teleskop

05 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.