Chairul Anwar Nidom : Pemerintah Perlu Meminta Virus Covid-19 untuk Penelitian
📅 Sabtu, 29 Feb 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim PenulisApa yang harus dilakukan?
Memang ada persoalan di Covid ini, mungkin kebijakan pemerintah menunggu. Tapi bukan berarti menunggu itu tidak mampu. Saya melihat persoalan ini mengapa luar negeri menyalahkan kita tidak mampu. Lalu, saya berontak ada apa ini. Lalu, teman-teman di lapangan, baik Eijkman di Jakarta atau Unair, mengedepankan tentang bagaimana mengidentifikasi virus pada orang.
Ini seperti jawaban dan pertanyaan tidak nyambung. Dulu 2003-2004 kami fokus pada virusnya, bagaimana karakternya, karena sumber virus (flu burung) ada di Indonesia di ayam, dan harus cepat dianalisa. Sementara sekarang sumbernya bukan di sini, kenapa kita harus ribut identifikasi, seperti cari jarum di jerami. Mengapa kita tidak menyiapkan host (inang)-nya menghadapi situasi yang wabah itu medsosnya lebih cepat dan liar.
Saya teringat 2008, saat infeksi flu burung meluas, saya kotak-katik ketemu kurkumin, di empon-empon. Lalu, saya ke sana ke mari berkampanye khasiatnya. Lalu, saya bandingkan sitokin yang dihasilkan flu burung dan dari peneliti di luar (Covid-19) ternyata mirip. Kalau begitu, lebih baik masyarakat menggunakan jamu empon-empon. Itu celah yang diberitakan sehingga seolah kita menemukan obatnya.
Sekarang, kami sedang membuat formulasi khusus, jahe, kunyit, dan sebagainya ini untuk virus flu burung, virus influenza, dan lainnya. Lalu, kami komunikasikan dengan ahli dan sebagainya. Yang penting masyarakat teredam dulu yakin bahwa kita mampu mengatasi (mengobati) wabah ini.
Bagaimana dengan pola penyebarannya?
Ada problem, antara virus dan inang harus ada tempat masuknya yaitu reseptor. Nah, reseptor penyakit ini sangat dipengaruhi faktor genetika. Penyakit khusus seperti Covid ini meski dalam satu ruangan belum tentu tertular karena dipengaruhi struktur reseptor yang berbeda. Ikatan antara reseptor dan virus ditentukan bagaimana bentuk reseptor terhadap virus atau adakah perubahan (mutasi) virus.
Pada gelombang satu, wabah ini di wilayah monoethnic reseptor hanya etnik tertentu yang terkena. Maka awalnya 99 persen yang meninggal hanya orang Tiongkok daratan. Lalu, ditarik dengan yang terinfeksi di Filipina, Thailand, Australia, dan Singapura ternyata juga imigran atau turis dari Tiongkok. Faktor genetika. Standar gelombang satu, monoethnic reseptor.
Sekarang ada perkembangan orang Iran meninggal, Jepang, dan sebagainya. Pertanyaan berikutnya, apakah virusnya yang sudah bermutasi sehingga bisa sesuai dengan reseptor orang-orang di negara itu (gelombang dua-multy ethnic reseptor) atau ada infeksi kuman lain seperti flu atau lainnya, yang membantu virus Covid-19 ini bisa masuk.
Ini yang harus diantisipasi sebagai negara yang belum terjangkau virus itu. Pemerintah semestinya fokusnya ke sini. Kalau perlu pemerintah berinisiatif mengundang para ahli dari negara-negara lain untuk membicarakan kenapa kita tidak kena. Sekarang belum ada informasi dari Tiongkok soal reseptor virus ini.
Apa yang terjadi kalau ditetapkan sebagai pandemi?
Kalau sudah ditetapkan sebagai wabah global, WHO yang pegang kendali. Kalau sudah ditetapkan, Indonesia mau buat vaksin harus minta persetujuan WHO. Sama juga kalau pemerintah ingin menangani Covid-19 harus satu komando dari Jakarta. Kalau pandemi harus satu kebijakan, dibentuk satgasnya. Saya condong dipimpin dari TNI agar sejalan dengan Menkesnya.


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!