Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Chairul Anwar Nidom : Pemerintah Perlu Meminta Virus Covid-19 untuk Penelitian

📅 Sabtu, 29 Feb 2020, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Chairul Anwar Nidom : Pemerintah Perlu Meminta Virus Covid-19 untuk Penelitian Doc: Koran Jakarta/Selocahyo

Ilmuwan dari berbagai negara berjuang menemukan vaksin virus tersebut. Secercah harapan muncul dari peneliti di Surabaya, Jawa Timur. Media memberitakan Chairul Anwar Nidom, Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair) atas temuannya, manfaat empon-empon (jahe, kunyit, temulawak, dan sejenisnya) yang mampu mengatasi dampak virus Covid-19.

Untuk mengetahui apa saja yang mesti dilakukan dalam mencegah dan mengatasi virus Covid-19, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawancarai Ketua Tim Riset Corona and Formulasi Vaksin di Professor Nidom Foundation (PNF), Chairul Anwar Nidom, di kawasan Kali Rungkut, Surabaya, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa yang Anda ketahui tentang virus Covid-19?

Awalnya tidak begitu tertarik dengam Covid ini karena saya pikir gelombangnya akan pendek. Kemudian, saya melihat ada situasi yang tidak menguntungkan Indonesia, di mana kita dipojokkan seolah tidak mampu mendeteksi virus ini. Padahal, pada 2004, saya sendirian di Indonesia mengungkap virus flu burung dengan pendekatan molekuler dan saya tahu Kemenkes juga mampu.

Apa induk dari virus ini?

Virus Covid-19 disebut virus misterius. Kalau dilihat dari reseptornya, tidak cocok dengan reseptor SARS, AC2, atau reseptor MERS, DL26. Mengapa dikaitkan dengan MERS dan SARS. Dari tujuh virus korona yang menginfeksi manusia, dua ini yang berbahaya. Awalnya adalah korona, lalu berkembang menjadi tujuh jenis, tapi yang berbahaya ada tiga, yaitu Covid-19, MERS, dan SARS. Covid-19 tidak diketahui nempel di reseptor mana.

Struktur dasarnya sama dengan virus korona yang menginfeksi kelelawar.

Seperti apa mata rantai penularan Covid-19?

Terdeteksi awal pasien yang dari pasar hewan itu. Meski hewannya macam-macam, struktur virusnya seperti yang hinggap di kelelawar. Kemudian, dilakukan penelitian pada trenggiling dan ditemukan, tapi bisa saja hanya terkontaminasi virus, tapi belum tentu menularkan. Memang betul struktur virusnya seperti yang di kelelawar, tapi apa benar kelelawar yang menularkan. Ini jadi pertanyaan peneliti dan pengambil kebijakan.

Bagaimana cara penularan?

Kita belum tahu apakah bisa lewat sentuhan, air liur, udara, atau lainnya, tapi sekarang kita tidak boleh ambil risiko dengan mengambil yang terberat, melalui udara. Seperti yang di kapal pesiar, karena terpaksa berada dalam lingkungan udara yang ada virusnya, lalu akhirnya terinfeksi.

Ini harus dicari, apakah dibantu kuman lain atau memang terinfeksi langsung. Kalau itu infeksi langsung, seharusnya yang 75 WNI lainnya juga terinfeksi. Ini yang menarik, mengapa yang tiga WNI terinfeksi, sisanya tidak. Berarti kemungkinan ada bakteri lain yang mengikis reseptor tiga orang itu sehingga Covid bisa masuk.

Seberapa penting faktor daya tahan?

Penting, tapi kalau seperti di kapal pesiar itu dalam satu lingkungan tidak terinfeksi maka bisa dicek dalam darah 75 orang itu, apakah muncul antibodi Covid, lalu dicek ada apa lagi di dalam tubuhnya. Itu yang memotret episentrum itu. Begitu juga mahasiswa yang di Natuna. Bagaimana tubuh orang Indonesia yang datang dari episentrum Wuhan. Seharusnya pemerintah menjembatani ini untuk peneliti. Kalau tidak ada dukungan pemerintah, mana mau mahasiswanya diteliti darahnya oleh kami.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Boleh Juga Jalan-jalan ke K...
Daerah
Skabies Menyerang Warga Bin...
Daerah
Antisipasi Banjir, Pemkot D...
Daerah
Gempa Bumi M6.1 Guncang Sum...
Advertisement
Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.