Perguruan Tinggi Berbasis Riset
📅 Sabtu, 27 Jul 2019, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: KORAN JAKARTA/ONES
Di tengah kencangnya isu pengangguran berpendidikan tinggi, antusiasme masyarakat melanjutkan kuliah ternyata tidak surut. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pendaftar yang mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini mencapai 478. 608 siswa.
Dari jumlah tersebut, yang lolos 92. 331 untuk 85 perguruan tinggi (PTN). Tiga kampus favorit ialah Universitas Brawijaya Malang (55. 871), Universitas Sebelas Maret Surakarta (48. 735) dan Universitas Diponegoro (48. 440). Antusiasme masyarakat merupakan kabar gembira. Artinya, mereka memiliki kesadaran tinggi terhadap pendidikan.
Masyarakat menaruh kepercayaan tinggi pada PTN. Namun, di sisi lain, kesadaran ini tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas PT. Dalam peringkat universitas terbaik versi Quacqurelli Symonds (QS) University Rangkings, tidak ada satu pun PT Indonesia masuk 100 besar dunia. Hanya ada tiga masuk dalam 500 besar PT terbaik dunia.
Mereka adalah Universitas Indonesia (296), UGM urutan 320, dan ITB urutan 331. Salah satu variabel penilaian yang menentukan adalah jumlah publikasi ilmiah bertaraf internasional. Minimnya publikasi ilmiah berskala internasional inilah yang menyebabkan peringkat universitas- universitas Indonesia terpuruk.
Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) kerap sesumbar, jumlah publikasi ilmiah Indonesia yang terindeks Scopus setiap tahun meningkat. Tahun 2018 jumlah publikasi ilmiah Indonesia 5. 125. Ini mengunggguli Singapura (4. 948). Di ASEAN, Indonesia hanya di bawah Malaysia (5. 999).
Namun, hitung-hitungan itu tentu tidak bisa dijadikan acuan lantaran jumlah penduduk termasuk angka universitas, dosen, dan mahasiswanya jauh lebih banyak dari total penduduk, universitas, mahasiswa, dan dosen Malaysia serta Singapura, bahkan jika digabungkan. Akan lebih rasional jika jumlah publikasi internasional juga dihitung berdasar jumlah penduduk satu negara.
Menurut Bank Dunia, rasio peneliti Indonesia hanya 1.071 per satu juta penduduk, sedangkan Malaysia 2.590 peneliti di antara satu juta warga. Sementara itu, rasio jumlah peneliti dan penduduk Singapura mencapai lebih dari 7.000 per satu juta penduduk.
Minimnya hasil penelitian berskala internasional PT Indonesia merupakan akumulasi dari sejumlah faktor berkelindan. Di antaranya, persoalan klasik anggaran, ruwetnya birokrasi dan rendahnya kapasitas sumber daya manusia. Secara akademik, harus diakui, kultur PT Indonesia belum sepenuhnya adaptif terhadap budaya penelitian dan pengembangan (research and development).
Teori
Kurikulum PT cenderung masih mengadopsi gaya pembelajaran klasik yang lebih menitikberatkan teori ketimbang praktik. Selain itu, mahasiswa dijejali puluhan matakuliah yang harus ditempuh sebagai salah syarat akademik kelulusan. Ritme perkuliahan pun lebih mirip rutinitas transfer ilmu pengetahuan dari dosen ke mahasiswa.
Itu nyaris tanpa stimulus yang mendorong mahasiswa berinovasi. Di saat sama, dosen yang idealnya berperan sebagai peneliti serta inovator, kerap terjebak pada aktivitas administratif yang tidak hanya menyita waktu, tapi juga pikiran. Selain beban mengajar yang banyak, sebagian besar dosen juga dibebani pekerjaan administratif yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pengembangan keilmuan.
Kondisi itu kian tidak menguntungkan ketika sistem birokrasi dan mekanisme anggaran cenderung tidak memiliki keberpihakan pada aktivitas penelitian. Dana cekak, perizinan berbelit-belit hingga minimnya apresiasi merupakan tantangan sekaligus bagian tidak terpisahkan dari kerjakerja kepenelitian akademik.
Alhasil, produktivitas dosen dalam meneliti dan menulis lebih sering dilakukan untuk memenuhi angka kredit semata. Lemahnya kultur kepenelitian dalam dunia akademik membuat universitas tidak ubahnya seperti pabrik lulusan berijazah, tapi sering minim kompetensi. Pada titik tertentu, universitas yang digadang sebagai tempat lahir para innovator, gagal menjalankan perannya.
Konsekuensinya, ribuan diploma dan sarjana tiap tahun justru menjadi beban baru pemerintah dan masyarakat. Maka, mengembangkan PT berbasis riset sudah tidak dapat ditawar. Tentu untuk mewujudkan diperlukan langkah-langkah strategis dan radikal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!