Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Agrokompleks Mesti Mandiri

📅 Sabtu, 13 Okt 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Agrokompleks Mesti Mandiri Doc: koran jakarta/eko s putra

Hana Indra Kusuma mendambakan Indonesia yang mandiri dan tak terus mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan warganya.

Beberapa waktu yang lalu, Koran Jakarta berkesempatan menyambangi Wedang Kebon, sebuah tempat makan baru berkonsep kebun di Sidoarum, Godean, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi itu adalah tempat nongkrong yang dibikin oleh Direktur Utama PT Natural Nusantara (Nasa), Hana Indra Kusuma.

"Ini selain untuk rehat selepas kerja juga sekaligus untuk menularkan gaya hidup alami kepada para pengunjung. Yang mengurus teman saya ahli lanskap dan bunga. Saya sendiri akan memanfaatkan lahan yang di belakang untuk mengenalkan bibit tanaman yang keberadaannya sudah langka," kata Hana.

Tempat makan seluas 5.000 meter persegi dengan masakan-masakan Jawa di lingkungan yang asri itu bisa disebut sebagai proyek sosial saja dari Hana. Makanan dan minumannya murah, bahkan bunga yang ada di sana bisa dibeli hanya dengan harga tiga ribu rupiah per tangkai. Padahal, jika beli di pengecer bunga bisa sampai 10 ribu rupiah. "Yang penting masyarakat, anak-anak, senang dengan tanaman dulu. Dengan tanaman hati jadi lembut, tidak grusa-grusu seperti sekarang ini," katanya.

Menurut Hana, dunia tanaman dari hulu hingga hilir adalah kunci bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Indonesia memiliki kesuburan dan kekayaan sumber daya pertanian yang luar biasa. Sayangnya, semua itu tidak dikelola dengan baik sehingga dari beras, buah, hingga produk turunannya, seperti produk kesehatan dan kecantikan, Indonesia lebih banyak impor.

Hana lahir tahun 1971. Dia merupakan lulusan Fakultas Pertanian S1 dan S2 UGM Yogyakarta. Sekitar 16 tahun lalu, Hana bersama beberapa temannya mendirikan PT Natural Nusantara atau kerap disingkat Nasa.

Pada awalnya, Hana hanya ingin mengembalikan hidupnya ke semua yang berbahan alami. Dan perusahaan yang dia dirikan itu mulai masuk ke bisnis melalui sarana produksi atau saprodi. Saprodi sangatlah luas, mulai dari budi daya hingga pemanenan. Maka Nasa dari awal memilih pada Saprodi pertanian organik, yakni pupuk.

Tak itu saja, Nasa lalu berkembang ke agensia hayati, makanan suplemen hewan dan ternak, reklamasi lahan hingga terapi limbah, yakni mengubah limbah menjadi pupuk.

Lebih dari itu, Nasa kemudian berkembang ke pascapanen, yakni produk herbal natural body care dan natural cosmetic. "Tapi, budi daya pertanian terus kita majukan. Bisnis kita di budi daya mulai dari hortikultura hingga tambak udang. Karena dengan itu, produk saprodi kita bisa dipercaya. Sawit kami juga punya percontohan," cerita Hana.

Saprodi organik, agensia hayati, dan reklamasi lahan Nasa sudah terdistribusikan di seluruh Indonesia. Dari retail hingga proyek besar bekerja sama dengan pengusaha pertanian besar Indonesia. Bahkan, saat ini Nasa telah menyiapkan proyek besar baru, yakni membuat lahan di tepi pantai menjadi produktif, seperti ditanami padi hingga buah-buahan. Laboratorium pertanian pantai milik NASA ada di pantai selatan Bantul. "Impian saya, anak-anak main ke pantai juga bisa memetik buah," kata Hana.

Menyulap Pantai

Indonesia memiliki lahan di tepian pantai yang sangat luas belum sepenuhnya produktif. Karena selama ini lahan berpasir itu dinilai tidak bisa digunakan sebagai lahan pertanian subur. Padahal, dengan teknologi yang dipunyai Nasa, yang sepenuhnya organik, pantai bisa disulap sesubur lahan di gunung.

Mengenai pilihan pemasaran, Nasa menggunakan pola jaringan. Hana menjelaskan bahwa perusahaannya tidak hanya ingin selling produk, tapi juga ingin mengupgrade penggunanya, baik skill maupun softskill. Alasannya, produk saprodi organik tidak bisa dilepas begitu saja ke pasar dengan cara konvensional yang ujung pemasarannya adalah toko.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Pemkot Serang Revisi Perda ...
Olahraga
Janice Awali Langkah di Eas...

Situ Cilangkap Disiapkan Menjadi Destinasi Unggulan  

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Situ Cilangkap Disiapkan Me...

Bogor Segera Ganti Angkot dengan Menyiapkan Biskita

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Bogor Segera Ganti Angkot d...
Petakan Musim Kemarau di Sumsel, Simak Peta Perkembangannya dari BMKG

Petakan Musim Kemarau di Sumsel, Simak Peta Perkembangannya dari BMKG

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.