Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Menyusuri Alam Bawah Laut Lombok

📅 Sabtu, 09 Sep 2017, 01:00 WIB | Oleh:
Menyusuri Alam Bawah Laut Lombok Doc: Koran Jakarta/SeloCahyo

Ketenaran Tanah Sasak alias Pulau Lombok sudah cukup dikenal, terutama dari segi keindahan alamnya. Bagi penggemar traveling, kawasan yang menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat ini identik dengan wisata bahari karena kaya akan koleksi pantai-pantai dan alam bawah lautnya yang mengagumkan.

Untuk menikmati keindahan bawah laut sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, maka komunitas selam Triton Dive mengunjungi Pulau Lombok selama tiga hari sejak 17 Agustus 2017. Komunitas yang berpusat di Jakarta ini punya latar belakang yang beragam dan berasal dari berbagai daerah, antara lain Surabaya, bahkan ada yang dari Filipina dan Korea Selatan.

Setelah berkumpul di Bandara Internasional Lombok Praya, Kamis (17/8), puluhan anggota Triton melakukan perjalanan darat selama sekitar satu jam menuju kawasan Pantai Senggigi. Meski cukup jauh perjalanan melewati Kota Mataram itu terasa menyenangkan, mata disuguhi pemandangan suasana pedesaan yang asri, serta jajaran nyiur yang indah di perbukitan pinggir pantai.

"Dive Spot"

Kecinan Setelah sampai di Pasific Beach Resort yang memiliki akses langsung ke pantai, pada pukul 10.30 WIT rombongan bersiap beralih menuju ke Dive Operator Scuba Froggy yang tidak jauh dari resort. Scuba Froggy yang menyediakan segala fasilitas untuk kegiatan scuba diving dan snorkling. Setelah persiapan perlengkapan selesai, puluhan penyelam Triton langsung menuju dive spot (titik selam) yakni Kecinan.

Lokasi tersebut dipilih karena bersifat Muck Dive, dengan kontur dasar pasir dan lumpur yang diperlukan untuk mengetahui sejauh mana keterampilan yang dimiliki setiap peselam. Untuk menyelam di Muck Dive diperlukan buoyancy (kemampuan apung) yang baik agar tidak menghempaskan lumpur atau pasir di dasar sehingga tidak berhamburan.

Pada lokasi ini, penyelam banyak menjumpai hewan-hewan kecil atau biasa disebut macro, seperti nudibranch, shrimp, dan juga frog fish. Tak hanya itu, rombongan Triton juga beruntung karena dapat menemukan ghost pipe fish yang jarang terlihat, serta kuda laut yang berukuran cukup besar.

Ghost pipe fish atau solenostomidae yang dijumpai adalah jenis Harlequin Ghost Pipefish. Dengan bentuknya yang aneh, ikan ini menyamar sebagai tumbuhan untuk menangkap organisme-organisme kecil. Ukuran harlequin ghost pipefish dapat berkembang hingga panjang 12 sentimeter.

Dengan bantuan guide lokal, Herman, para penyelam juga dapat mengidentifikasi beberapa udang glass shrimp yang sedang berada di anemon. Glass shrimp memakan organisme kecil atau sisa organisme lain yang sudah mati. Hewan itu bersimbiosis dengan anemon yang ada sebagai pembersih. Karena badannya yang transparan, jika tidak jeli, susah mengenali hewan ini.

Sementara itu, kuda laut yang ditemui kali ini cukup besar dan juga jarang ditemui, dengan ukuran lebih dari 10 sentimeter. Spesies yang berkembang biak melalui kehamilan jenis jantannya ini termasuk berada dalam status terancam. Kuda laut banyak ditangkap secara berlebihan karena dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional khas Tiongkok.

Setelah beristirahat sejenak di pantai selama satu jam sebagai prosedur jeda antara penyelaman, sekitar pukul 12 siang para anggota Triton kembali masuk ke air di sekitar Kecinan, namun menuju arah yang berbeda. Waktu itu para penyelam menemui arus yang cukup kuat, karena menjelang waktu air surut.

Masih bersifat muck dive, di spot ini rombongan menemukan beberapa hewan jenis nudibranch atau yang biasa disebut kelinci laut. Nudi berbentuk seperti lintah, namun tidak berbahaya. Sebagai mekanisme pertahanan, Nudi mengeluarkan asam dari kulitnya. Tubuhnya yang berwarna-warni membuatnya terhindar dari pemangsa, namun justru warnanya itulah yang membuat nudibranch sangat menarik bagi manusia.

Terdapat 2.300 jenis spesies dari nudibranch di dunia ini. Ada juga frog fish yang dapat dijumpai di spot Kecinan, namun memang jumlahnya tidak banyak dan penyelam harus jeli untuk menemukannya. Bentuk dan warnanya yang menyatu dengan karang membuat hewan yang hidup di kedalaman antara 20 sampai 100 meter ini sulit diidentifikasi. Bentuk dan warnanya yang menyatu dengan karang itulah sebagai kamuflase dari pemangsa.

Setelah melakukan penyelaman sekitar 40 menit, rombongan pun menyudahi petualangan hari pertama untuk menyambut datangnya matahari terbenam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Bagnaia Tak Terbendung di S...
Luar Negeri
Tiongkok Demonstrasikan Kem...
  • Cuaca Jakarta Hari Ini Cerah Berawan dari Pagi hingga Malam
    Preview komentar:
    Cara Menghapus akun & Tutup akun (Kredione).silakan hubungi ...
    Berikut nomor Call center resmi mcep (INDODAX) adalah. ...
  • Persija Jakarta Wajib Tempatkan Pemain Berkarakter, Ini Penjelasan Shin Tae-Yong
    Preview komentar:
    Hubungi Call Center Resmi Spinjam (0817-776-012) atau Cs ...
    Cara Membatalkan Pinjaman Spinjam kamu bisa menghubungi Call ...
  • Pasukan AS Mencabut Blokade Pelabuhan dan Pesisir Iran Usai Kesepakatan Damai Disetujui
    Preview komentar:
Jadi Tersangka, Roy Suryo dan Tifa Jatuh Sakit, Dirawat Inap di RS Polri

Jadi Tersangka, Roy Suryo dan Tifa Jatuh Sakit, Dirawat Inap di RS Polri

20 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.