Tak Mau Bergantung Impor, KKP Pasang Target Cepat: Swasembada Garam Dikejar 2027
📅 Kamis, 12 Feb 2026, 20:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Aprillio Akbar
JAKARTA – Swasembada garam menjadi krusial bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjaga keberlanjutan industri pangan dan farmasi yang sangat bergantung pada pasokan stabil.
Ketergantungan impor membuat harga domestik rentan terhadap gejolak global, sementara produksi lokal yang kuat memberi negara kendali lebih besar atas rantai pasok strategis.
Dengan penguatan teknologi produksi, tata niaga yang adil, dan perlindungan petambak, swasembada garam dapat menjadi instrumen ketahanan pangan sekaligus penggerak ekonomi pesisir.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mempercepat target swasembada garam pada 2027 melalui tiga strategi utama, guna meningkatkan produksi nasional dan mengurangi ketergantungan impor bagi kebutuhan industri serta memperkuat kesejahteraan petambak.
"Strategi pemerintah itu tujuannya adalah untuk swasembada garam, kedua pasti untuk kesejahteraan petambaknya sendiri. Jadi fokus kita kalau untuk mengatasi (mencapai swasembada garam di 2027) itu kita punya tiga strategi," kata Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita di Jakarta, Kamis (12/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menyebutkan tiga strategi meliputi ekstensifikasi, intensifikasi, dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas produksi garam nasional secara berkelanjutan dan terukur.
KKP menargetkan swasembada garam nasional pada 2027 seiring kebutuhan yang diperkirakan mencapai 4,9 hingga 5,2 juta ton per tahun. Saat ini, sekitar 50-60 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor untuk industri.
Ketergantungan impor terutama terjadi pada garam industri, seperti chlor alkali plant (CAP) dan aneka pangan, yang mensyaratkan spesifikasi tinggi. Sementara itu, produksi dalam negeri dinilai belum optimal dari sisi kuantitas maupun kualitas untuk memenuhi standar industri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Produksi garam nasional dalam beberapa tahun terakhir berfluktuasi dengan rata-rata sekitar 2 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan mendekati 5 juta ton, terdapat kesenjangan sekitar 3 juta ton yang belum dapat dipenuhi produksi domestik.
"Nah, ini kenapa? Karena ternyata memang produksi dalam negeri itu di satu sisi dari segi kuantitas maupun kualitasnya memang bisa dibilang belum cukup optimal untuk memenuhi standar atau kebutuhan dari industri. Kita bisa lihat dari data produksi dari tahun ke tahun itu fluktuatif, naik turun tergantung cuaca," bebernya.
Penurunan produksi juga dipengaruhi metode tradisional yang masih dominan digunakan petambak dan sangat bergantung pada cuaca. Sentra garam umumnya hanya memiliki lima hingga enam bulan musim panas, sehingga produksi tidak dapat berlangsung sepanjang tahun.
Dari sisi kualitas, standar garam rakyat masih beragam karena melibatkan sekitar 25.000 petambak dengan kemampuan berbeda. Kadar NaCl rata-rata tertinggi sekitar 94 persen, sementara industri membutuhkan minimal 97 persen, bahkan farmasi hingga 99 persen.
"Jadi memang faktor-faktor utama kenapa produksi kita itu masih belum bisa memenuhi kebutuhan industri? Karena kebutuhannya besar dan speknya juga tinggi, kita memang garam yang dihasilkan oleh petambak ini belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan industri. Kalau (garam) konsumsi kita sudah swasembada sejak tahun 2012," tambahnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjut Frista, tiga strategi tersebut menjadi upaya KKP untuk mewujudkan swasembada sekaligus meningkatkan kesejahteraan petambak. Strategi pertama adalah ekstensifikasi melalui pembukaan tambak baru yang ditargetkan menghasilkan garam berkualitas industri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!