Rupiah Hari Ini Kembali Melemah, Sinyal dari The Fed: Suku Bunga AS Tak Jadi Turun
📅 Rabu, 29 Okt 2025, 17:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
JAKARTA – Rupiah melemah di perdagangan tengah pekan ini, mencerminkan respons pasar terhadap ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Sentimen ini mendorong aliran modal asing keluar dari aset berisiko, termasuk pasar keuangan domestik, dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Tekanan eksternal tersebut diperparah oleh ketidakpastian global, sementara faktor fundamental dalam negeri seperti defisit transaksi berjalan dan kebutuhan impor turut menambah tekanan pada rupiah.
Namun, langkah antisipatif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas diharapkan dapat meredam volatilitas berlebih di pasar valuta asing.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Rabu (29/10) sore, melemah sebesar 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.617 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.608 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini (29/10) juga melemah di level Rp16.631 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.622 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi ekspektasi bahwa suku bunga acuan The Fed akan bertahan tinggi lebih lama.
“Hal ini menyusul sejumlah data ekonomi AS yang tetap solid, termasuk pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) dan klaim pengangguran mingguan yang masih stabil,” ucapnya di Jakarta, Rabu (29/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
Sentimen lain terhadap rupiah berasal dari imbal hasil (yield) obligasi AS yang tetap tinggi turut menahan minat terhadap aset berisiko di kawasan Asia, termasuk kurs rupiah.
Melihat dari faktor domestik, pelaku pasar disebut masih menantikan arah kebijakan lanjutan Bank Indonesia pasca mempertahankan BI-Rate pada level 6,25 persen pada pekan lalu.
“Upaya stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valas dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) diperkirakan akan menjaga volatilitas rupiah agar tetap terkendali. Surplus neraca perdagangan dan aliran masuk devisa hasil ekspor (juga) masih menjadi faktor penahan pelemahan lebih dalam,” ungkap Taufan.
Menurut dia, pergerakan rupiah yang relatif datar dalam beberapa hari terakhir mencerminkan fase konsolidasi pasar di tengah katalis baru yang minim.
Pelaku pasar dinyatakan cenderung bersikap wait and see menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan pada Rabu malam waktu AS (30 Oktober 2025).
“Keputusan dan pandangan The Fed terkait Federal Funds Rate (FFR) akan menjadi petunjuk utama arah kebijakan moneter AS ke depan dan berpotensi mempengaruhi sentimen terhadap aset berisiko, termasuk rupiah,” ujar Research and Development ICDX tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!