Riset: Kendaraan Listrik Bisa Turunkan Emisi Jika Bauran Energi Terbarukan di Atas 65% per Tahun
📅 Senin, 16 Jun 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: -PLN UID Sumut
Glenn Jolodoro, Universitas Padjadjaran dan Susanti Withaningsih, Universitas Padjadjaran
Pada era awal penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia, realisasi penjualan unitnya terus bertumbuh. Sepanjang 2021-2023, misalnya, laju pertumbuhan tahunannya rata-rata berkisar 206,6%.
Studi kami menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik bisa mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Namun, EV tidak secara otomatis menurunkan emisi.
Tanpa transisi ke sumber energi terbarukan berkelanjutan secara paralel, penggunaan kendaraan listrik hanya akan memindahkan emisi dari knalpot ke cerobong pembangkit listrik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih jauh lagi, efektivitas model kendaraan baru ini sangat bergantung pada infrastruktur pendukung dan kebijakan transportasi yang mendukung efisiensi energi secara menyeluruh.
Tiga skenario adopsi EV
Kami memanfaatkan data dari Google Environmental Insights Explorer (Google EIE) untuk menganalisis konsumsi BBM dan emisi sektor transportasi. Saat ini data terlengkap dan akurat tersedia untuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, sehingga kami memakai wilayah tersebut sebagai sampel dalam studi ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di NTB, mobil masih menjadi penyumbang emisi terbesar, meski sepeda motor lebih sering digunakan. Sepanjang tahun 2023 menunjukkan bahwa mobil menyumbang 1,78 juta ton CO?e, sementara motor sekitar 0,83 juta ton—padahal jumlah perjalanan motor lima kali lebih banyak. Artinya, jika Indonesia ingin menekan emisi dari sektor transportasi, fokus utama harus pada elektrifikasi mobil pribadi.
Kami juga melakukan simulasi tiga skenario adopsi EV dengan mempertimbangkan pertumbuhan kendaraan, kebutuhan energi atau BBM, serta dinamika emisi karbon. Kami memakai asumsi jumlah total kendaraan pada 2050 adalah sekitar 57 juta unit.
Hasilnya adalah sebagai berikut:
-
Skenario business as usual: Jika EV mencapai lebih dari 50% pangsa pasar (sekitar 31 juta unit) pada 2050 tanpa perubahan bauran energi—misalnya, pembangkit masih didominasi batu bara—konsumsi BBM memang bakal menurun, tetapi pasokan listrik tidak bisa mengimbangi. Akibatnya, emisi tetap tinggi dan terjadi defisit energi. Dalam kondisi ini, masyarakat berisiko kembali beralih ke kendaraan berbahan bakar konvensional.
-
Skenario moderat: Jika pangsa pasar EV ditargetkan 23% (sekitar 13 juta unit) pada 2050, dengan pertumbuhan energi terbarukan 15-31% per tahun, pasokan listrik cukup stabil. BBM bisa ditekan hingga 25%, dan impor turun separuhnya. Namun, emisi tetap tinggi karena ketergantungan pada batu bara masih besar.
-
Skenario optimistis: Jika adopsi EV menembus 50% dan energi terbarukan tumbuh 30–65% per tahun, konsumsi BBM turun signifikan. Sayangnya, emisi masih tetap tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!