Perjuangan Elpiji 12 Kg: Si Merah Muda Menembus Pedalaman Mentawai
📅 Senin, 21 Jul 2025, 18:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Dari kejauhan, bunyi mesin pompong memecah kesunyian pagi di aliran Sungai Sarereiket dan suaranya dari samar menjadi semakin keras, pertanda ada sampan yang mendekat.
Berlabuhlah pompong itu di Desa Matotonan setelah melayari sungai yang meliuk-liuk bak ular sekitar dua jam perjalanan dari Desa Ugai, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Setelah semua penumpang turun ke darat, mulailah pemilik sampan itu menurunkan barang-barang yang dibawa, termasuk gas elpiji 12 kilogram yang dipindahkan dengan meniti tangga dari batang kelapa sepanjang 2,5 meter yang disandarkan dengan kemiriangan 45 derajat ke bantaran sungai.
Di sana, seorang sikerei (dukun tradisional Mentawai), Hariadi Sabulat (63), menyambut Bright Gas itu dan memasukkan ke gerobaknya. Dengan gerobak itu, gas pesanannya dibawa melewati jalan rabat beton dari dusun ke dusun, mendaki dan menurun sampai ke rumah anaknya di Dusun Onga sekitar 700 meter.
Hariadi membantu membawa gas itu ke rumah anaknya, Leli Farida Sabulat (30), untuk digunakan memasak sehari-hari di rumah. Sore itu Hariadi ingin menikmati keladi goreng dan teh manis panas di beranda rumah sambil menghabiskan sore.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan sigap, Leli membuka segel tabung gas dan memasang regulatornya. Ia mengikat regulator ke pegangan tabung menggunakan sobekan kain agar pemasangan kuat dan tidak lepas. Tidak pakai lama, Leli sudah bisa menyalakan api kompor dan memasak makanan kesukaaan ayahnya itu.
Leli mulai menggunakan gas nonsubsidi itu sejak tahun 2019 karena belum masuknya gas tiga kilogram ke daerah itu. Sebelumnya ia menggunakan kompor minyak tanah.
Agar gas itu bisa sampai ke Matotonan, Leli harus membayar sekitar Rp400 ribu per tabung, sudah termasuk ongkos kirim dari Muara Siberut dan harga isi ulang. Pertama kali membeli tabung gas, ia merogoh kocek Rp700 ribu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sekarang sudah ada yang jual isi ulangnya di Matotonan, harganya Rp345 ribu per tabung. Biasanya saya pakai bisa tahan enam bulan lebih, karena jarang masak juga. Kalau sering masak, tiga empat bulan bisa habis," kata Leli di Matotonan, pada hari Minggu pertama di bulan Juli.
Meskipun tidak lagi menggunakan kompor minyak tanah, Leli masih menggunakan kayu bakar. Biasanya digunakan untuk masak yang membutuhkan durasi lama, seperti masak air dan masak sagu.
Selain itu, Leli lebih suka menggunakan kompor gas, karena bisa memasak lebih cepat dan tidak ribet. Kendati harganya mahal dan bukan barang subsidi, ia menilai menggunakan elpiji 12 kilogram bisa lebih hemat dibandingkan menggunakan kompor minyak tanah.
Tanpa menunggu lama, Leli menghadirkan sepinggan keladi goreng di meja yang langsung dilahap ayahnya. Teh manis panas masih mengepulkan asap berbaur dengan kabut pagi.
Pedagang kelontong di Desa Matotonan, Zainuddin mengaku pada awalnya ia menjual gas elpiji 12 kilogram isi ulang sebanyak enam tabung, namun semakin hari pelanggannya semakin bertambah menjadi 12 orang.
Gas tersebut ia beli sambil berbelanja stok jualannya di Muara Siberut, kemudian dibawa menggunakan pompong ke Desa Matotonan. Tapi ada juga yang langsung membeli ke Muara Siberut atau agen lain di daerah hilir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!