Pembangunan Harus Dimulai di Sentra Penduduk Miskin di Desa
📅 Kamis, 08 Jun 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: NHAC NGUYEN/AFP
» Birokrasi untuk membuka usaha di Indonesia lebih rumit dan berjenjang, sedangkan Vietnam hanya satu langkah.
» Masyarakat Indonesia cenderung konsumtif sehingga impor tinggi, berbeda dengan Vietnam yang masyarakatnya lebih produktif.
JAKARTA - Pendapatan per kapita Indonesia saat ini hampir disalip oleh Vietnam. Padahal pada 1990, pendapatan per kapita Indonesia masih lima kali dari Vietnam, tapi sekarang hanya 1,1 kali. Parahnya lagi, pendapatan perkapita Indonesia saat ini terbilang semu karena terlalu banyak disumbang oleh seglintir orang kaya yang banyak menguasi sumber daya.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, di Jakarta, belum lama ini mengatakan perhitungan pendapatan per kapita saat ini berdasarkan atlas method di mana angkanya terus berubah.
Target dalam lima tahun ke depan, dengan asumsi pendapatan per kapita bisa tumbuh 6 persen setiap tahun maka bisa mencapai 7.000 dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita bisa sampai dengan 7.000 dollar AS itu bagus sekali, nanti basis untuk ke depan bisa naik lagi," kata Suharso.
Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia baru 4.140 dollar AS atau 5,9 persen dari pendapatan per kapita AS. "Kita ingin menjadi 20 persen dari pendapatan per kapita AS pada masa yang akan datang dan itu artinya naiknya 3,4 kali lipat," kata Suharso.
Dia mengakui untuk menaikkan pendapatan per kapita, tidak mudah. Sebab, Indonesia masih masuk di dalam lower middle income dengan pendapatan 1.086-4.255 dollar AS atau sedikit lagi masuk ke upper middle income dengan pendapatan 4.256-13.205 dollar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi hal itu, pakar ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, mengatakan Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk dari berbagai macam budaya, sehingga menghasilkan perilaku ekonomi yang beraneka ragam. Pola konsumsi dan produksi yang beraneka ragam inilah yang membuat pemerintah Indonesia lebih sulit dalam merumuskan kebijakan ekonomi, dibandingkan Tiongkok dan Vietnam.
Tiongkok dan Vietnam lebih mudah untuk mengarahkan masyarakatnya untuk beraktivitas produksi lebih banyak dibandingkan konsumsi (labor-leisure), sementara Indonesia tidak semudah itu.
Indonesia adalah negara tersantai di dunia. Pemerintah tidak bisa memaksa masyarakatnya untuk mengurangi leisure, karena banyak sekali aktivitas yang berkaitan dengan budaya atau agama, misalnya mengurangi jam kerja, menambah hari libur nasional/cuti bersama.
Sedangkan perekonomian Tiongkok dan Vietnam masih banyak dikendalikan oleh pemerintah (ekonomi terpimpin), sementara Indonesia lebih diserahkan kepada pasar.
Secara historis dan budaya pun, Tiongkok lebih nyaman bertransaksi dengan Vietnam karena memiliki lebih banyak kesamaan dibandingkan Indonesia.
Dengan demikian, Vietnam dapat dengan cepat menyalip pendapatan per kapita Indonesia karena banyak sekali aktivitas produksi dengan modal dari Tiongkok yang dilakukan di Vietnam. Tiongkok banyak membuka pabrik-pabrik di Vietnam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!