Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

OpenAI Gugat Elon Musk atas Dugaan Upaya Sabotase dan Ambisi Pribadi

📅 Jumat, 11 Apr 2025, 16:20 WIB | Oleh:
OpenAI Gugat Elon Musk atas Dugaan Upaya Sabotase dan Ambisi Pribadi Doc: BBC

Perseteruan antara OpenAI dan Elon Musk semakin memanas setelah perusahaan kecerdasan buatan tersebut resmi menggugat sang miliarder teknologi atas tuduhan bahwa ia mencoba memperlambat laju bisnis mereka demi kepentingannya sendiri. Gugatan ini merupakan tanggapan terhadap tuntutan hukum yang diajukan Musk tahun lalu, dan menandai babak baru dalam konflik penuh drama antara dua kekuatan besar Silicon Valley.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu (10/4), OpenAI menyebut bahwa Elon Musk telah “tanpa henti” menggunakan taktik itikad buruk untuk memperlambat kemajuan perusahaan, sekaligus mencoba mengambil alih kontrol atas pengembangan teknologi AI terdepan yang kini tengah mereka kembangkan.

"Tindakan Elon yang terus-menerus terhadap kami hanyalah taktik yang tidak jujur untuk memperlambat OpenAI dan mengambil alih kendali inovasi AI terkemuka demi keuntungan pribadinya," ujar pihak OpenAI.

Gugatan balik ini muncul hanya seminggu setelah seorang hakim federal di Oakland, California, menjadwalkan persidangan atas gugatan Musk pada Maret 2026. Hakim Yvonne Gonzalez Rogers juga menolak permintaan Musk untuk menghentikan perubahan status hukum OpenAI dari organisasi nirlaba menjadi entitas berbasis laba.

Dalam gugatannya, Musk menuduh bahwa OpenAI telah menyimpang dari misi awalnya untuk mengembangkan kecerdasan buatan demi kepentingan umat manusia. Menurut Musk, perubahan arah tersebut berarti perusahaan telah melanggar kontrak pendiriannya. Ia mengklaim bahwa peralihan ke perusahaan yang mencari keuntungan tidak pernah menjadi bagian dari visi awal.

Musk, yang turut mendirikan OpenAI pada 2015 bersama Sam Altman, keluar dari perusahaan pada tahun 2018 karena alasan yang disebut-sebut berkaitan dengan perbedaan visi dan konflik kepentingan. Sejak saat itu, hubungannya dengan OpenAI terus memburuk.

Menurut Ari Lightman, profesor media digital dari Carnegie Mellon University, konflik ini bukan lagi soal visi, tetapi lebih kepada siapa yang memegang kuasa.

"Ini tentang kendali. Ini tentang pendapatan. Pada dasarnya ini tentang satu orang yang berkata, 'Saya ingin mengendalikan perusahaan rintisan itu',” katanya.

Ia menambahkan bahwa semua perhatian terhadap tujuan awal membangun AI yang aman dan etis kini tertutup oleh pertarungan hukum dan kepentingan monetisasi.

OpenAI juga menuduh Musk menyebarkan informasi yang menyesatkan kepada publik. Dalam salah satu posting di platform X—media sosial yang juga dimiliki Musk—OpenAI mengatakan:

"Elon tidak pernah peduli dengan misi. Dia selalu peduli dengan agendanya sendiri."

Ketegangan semakin meningkat setelah perusahaan AI milik Musk, xAI, yang merupakan pesaing langsung OpenAI, mengakuisisi platform X (sebelumnya Twitter). Saat ini, nilai gabungan perusahaan baru tersebut—XAI Holdings—diklaim Musk mencapai lebih dari $100 miliar, meskipun pengaruh xAI masih berada jauh di bawah OpenAI dalam hal teknologi dan jangkauan.

Pada Februari lalu, Musk dilaporkan mengajukan tawaran tidak diminta untuk mengakuisisi OpenAI sebesar $97,4 miliar. Tawaran itu langsung ditolak oleh Altman dengan tanggapan sarkastik:

"Tidak, terima kasih, tetapi kami akan membeli Twitter seharga $9,74 miliar jika Anda mau," tulisnya di X.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.