Menko Perekonomian: Ketahanan Energi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Konflik Timur Tengah
📅 Selasa, 28 Apr 2026, 15:20 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: RRI/Magdalena Krisnawati
JAKARTA – Ketahanan energi Indonesia dinilai cukup kuat di tengah krisis harga energi global sebagai dampak konflik di Timur Tengah. Sejauh ini, pemerintah hanya menaikkan harga BBM non-subsidi, sedangkan harga BBM subsidi tidak berubah.
“JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi global,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin (27/4). Menurut dia, ketahanan energi Indonesia kuat karena tidak bergantung pada kondisi Selat Hormuz.
Menko Airlangga mengungkapkan pengalamannya saat menghadiri pertemuan Asean Zero Emission bersama 12 negara lainnya. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
“PM Takaichi mengatakan 70 persen negara Asia bergantung pada Timur Tengah, pada Selat Hormuz dalam pasokan energinya. Indonesia tidak, pasokan energi Indonesia dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz hanya 20 persen,” ujar Menko Airlangga.
Indonesia juga menggunakan beragam sumber energi untuk pasokan listriknya, mulai dari gas hingga batu bara. “Sehingga memperkuat daya tahan kita di bidang energi,” ucap dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada kesempatan itu, Menko Airlangga juga menekankan kondisi fundamental perekonomian Indonesia tetap terjaga meski ketidakpastian dan tekanan global makin tinggi.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di triwulan I 2026 bisa mencapai 5,5 persen, inflasi sekitar 3,48 persen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih tinggi di 122,9 dan neraca perdagangan surplus 70 bulan beruntun sekitar Rp148,2 triliun.
“Kita lihat ekspor ke Amerika pada tahun lalu (2025) meningkat hingga doble digit. Jadi, walau ada isu pengenaan tarif AS, Indonesia masih dapat mempertahankan pasar Amerika,” ujjar Menko Airlangga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tapi saat ini, Indonesia termasuk satu dari 16 negara yang terkena investigasi oleh otoritas perdagangan AS. AS melakukan investigasi atas dasar section 301 terhadap negara mitra dagangnya yang diaggap menerapkan praktik tidak asil.
“Sementara itu, konsumsi dalam negeri masih kuat, 54 persen terhadap PDB. Utang luar negeri Indonesia sebesar 29,9 persen dari PDB,” kata Menko Airlangga.
Surat Berharga Negara (SBN) juga didominasi investor domestik, hingga 87,4 persen. Sedangkan porsi asing nya hanya sebesar 12,6 persen. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!