Harga Mi Instan Turun Berkat Kesepakatan Dagang AS-Indonesia
📅 Jumat, 15 Agu 2025, 16:30 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Getty Images
JAKARTA – Amerika Serikat dan Indonesia resmi menandatangani perjanjian perdagangan baru yang diproyeksikan akan menurunkan harga Indomie dan produk mi instan lainnya di pasar domestik maupun internasional. Kesepakatan ini disebut Gedung Putih sebagai “kesepakatan perdagangan bersejarah” karena mencakup penghapusan tarif Indonesia terhadap lebih dari 99 persen barang asal AS, termasuk gandum sebagai bahan baku utama mi instan.
Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, AS juga akan memangkas tarif rata-rata untuk produk asal Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Langkah ini diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor Indonesia ke pasar Amerika, termasuk pada sektor makanan dan minuman.
Penghapusan tarif gandum AS diyakini akan memangkas biaya produksi mi instan Indonesia secara signifikan. Dampaknya, merek seperti Indomie yang kini menduduki posisi kedua merek mi instan terbesar di Asia setelah Nissin asal Jepang berpeluang menjadi lebih kompetitif di tingkat global.
Peneliti ekonomi dan keuangan di Jakarta, Andry Satrio, menilai kebijakan ini memberikan peluang positif bagi sektor makanan dan minuman. “Industri makanan dan minuman masih dalam tahap pemulihan pascapandemi, dan biaya input yang lebih rendah dapat mendorong pertumbuhan,” ujarnya.
Andry juga menyebut bahwa perjanjian ini berpotensi memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional. Ia menekankan bahwa keunggulan harga dan efisiensi produksi akan menjadi kunci daya saing di era perdagangan bebas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, tidak semua pihak menyambut baik perjanjian ini. Sejumlah kalangan menilai kesepakatan tersebut bersifat eksploitatif dan terlalu menguntungkan pihak Amerika Serikat. Mereka khawatir kebijakan ini dapat mengancam keberlanjutan perekonomian nasional dalam jangka panjang.
Menanggapi kritik tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kesepakatan ini memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia. Ia menyoroti penurunan tarif yang dilakukan AS sebagai bentuk konsesi besar terhadap produk-produk Indonesia.
Airlangga menyebut bahwa komoditas seperti minyak sawit mentah, kakao, dan karet – yang tidak diproduksi di AS – akan mendapatkan keuntungan dari tarif yang jauh lebih rendah. Menurutnya, hal ini dapat memperluas peluang ekspor Indonesia ke pasar Amerika dengan hambatan yang lebih minim.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perjanjian ini juga menandai pertama kalinya Indonesia menerapkan tarif nol persen bagi barang asal AS. Namun, Indonesia sudah memiliki pengalaman dalam perjanjian perdagangan bebas dengan berbagai negara.
Sebagai anggota ASEAN, Indonesia telah menjalin kesepakatan serupa dengan Hong Kong, Tiongkok, Australia, dan Selandia Baru. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah terbiasa menghadapi dinamika pasar bebas dan tantangan kompetisi global.
Dengan adanya kesepakatan dagang ini, pelaku industri diharapkan mampu memanfaatkan peluang secara optimal. Pemerintah menekankan pentingnya inovasi, peningkatan kualitas, dan efisiensi untuk memastikan Indonesia tetap unggul dalam persaingan perdagangan internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!