Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gejolak Global Tekan PMI Manufaktur RI, Kemenperin Siapkan Insentif Baru Lindungi Industri

📅 Senin, 04 Mei 2026, 18:12 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Gejolak Global Tekan PMI Manufaktur RI, Kemenperin Siapkan Insentif Baru Lindungi Industri Doc: istimewa
Ket. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menyebut pelemahan ini dipicu konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok serta memicu lonjakan harga komoditas dan biaya logistik

JAKARTA – Tekanan geopolitik global mulai menggerus kinerja industri manufaktur nasional. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia April 2026 turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret 2026, menandai kembalinya sektor ini ke zona kontraksi.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menyebut pelemahan ini dipicu konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok serta memicu lonjakan harga komoditas dan biaya logistik. “Kondisi itu langsung menekan aktivitas produksi industri nasional,” kata Febri di Jakarta, Senin (4/5).

Menjawab situasi tersebut, Kemenperin menempuh sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya mempertemukan ekosistem rantai pasok industri terdampak seperti industri plastik agar pasokan bahan baku tetap aman. Kemenperin juga mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk menekan ketergantungan pada mata uang asing dan meredam risiko fluktuasi kurs.

Selain itu, Kemenperin mempercepat perumusan kebijakan strategis. Fokusnya pada penguatan substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor. Langkah ini dibarengi fasilitasi ke pelaku industri lewat pendampingan, peningkatan kapasitas IKM, dan akselerasi transformasi digital untuk efisiensi dan daya saing.

“Semua upaya ini tujuannya menjaga ketahanan dan kemandirian industri nasional serta mempertahankan utilisasi produksi. Prioritas utama pemerintah adalah melindungi pekerja industri dari PHK,” tegas Febri.

Di luar kebijakan perlindungan yang sudah berjalan sebelum gejolak di Timur Tengah, Kemenperin kini menyiapkan usulan insentif dan kebijakan perlindungan baru. “Pak Menteri Perindustrian sedang siapkan rancangan insentif baru yang memperkuat kebijakan sebelumnya. Harapannya rantai pasok industri lebih kuat menghadapi tekanan global dan pekerjanya terlindungi,” imbuhnya.

Asia Tenggara Melemah

Data S&P Global menunjukkan tekanan manufaktur juga melanda Asia Tenggara dengan level berbeda. Vietnam mencatat PMI 50,5, Malaysia 51,6. Indonesia dengan 49,1 berada di kelompok kontraksi moderat, sejalan tren pelemahan ASEAN. Namun Indonesia masih relatif lebih baik dibanding Filipina yang PMI-nya 48,3, ditopang permintaan domestik.

“Posisi kontraksi moderat menunjukkan manufaktur kita relatif resilien di tengah tekanan global. Tapi ini sinyal penting untuk perkuat struktur industri dalam negeri agar tahan gejolak eksternal,” jelas Febri.

Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencatat optimisme pelaku industri terhadap prospek produksi 6 bulan ke depan masih tinggi di 70,1%, meski turun tipis 1,7% dibanding bulan lalu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pelatihan untuk Tekan Penga...
Nasional
Dinamika Atmosfer Picu Banj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.