Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Kemenekraf Optimalkan Potensi Gen Z dan Teknologi
📅 Rabu, 16 Jul 2025, 16:00 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas
Doc: Dok. istimewa
JAKARTA — Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menyebut Gen Z sebagai generasi muda memiliki potensi besar dalam ekonomi kreatif. Pemerintah melalui Kementerian Ekraf hadir sebagai fasilitator agar potensi itu bisa menjadi the new engine of growth.
“Gen Z adalah digital native sekaligus agen transformasi kreatif. Mereka bukan hanya pengguna teknologi baru seperti NFT, DAO, atau metaverse—tapi juga pencipta. Kita harus hadir sebagai fasilitator agar potensi mereka bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Irene di Jakarta kemarin.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam episode podcast Bellpods bertajuk ‘Crypto, Gen Z, dan Ekonomi Kreatif: Kombinasi Masa Depan?’ yang dipandu oleh Isybel Harto selaku pelaku industri teknologi Web3 sekaligus pendiri Belsystem. Podcast yang direkam di Move On Multimedia Studio, Green Lake City, Kota Tangerang ini menjadi ruang diskusi terbuka tentang potensi integrasi teknologi blockchain, NFT, dan Web3 dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif khususnya bersama generasi muda sebagai penggerak utama inovasi.
Dalam perbincangan tersebut, Irene menegaskan bahwa ekonomi kreatif dan teknologi kini tak dapat dipisahkan. Dan dirinya juga menyoroti teknologi kripto dan blockchain sebagai peluang strategis yang relevan.
Aset digital seperti NFT memungkinkan kreator mengelola distribusi dan monetisasi karya secara langsung tanpa bergantung pada perantara tradisional. Sejumlah seniman visual Indonesia bahkan telah menjual karya mereka kepada kolektor internasional melalui platform global, menunjukkan bahwa daya saing ekraf Indonesia semakin terbuka di kancah dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbagai inisiatif telah dijalankan, mulai dari workshop NFT di Bali Creative Industry Center (BCIC), program inkubasi BEKUP untuk startup berbasis teknologi, hingga kemitraan aktif dengan komunitas Web3 seperti IDNFT dan kolektif seniman digital.
“Kolaborasi ideal harus berbasis kepercayaan dan nilai bersama. Pemerintah sebagai fasilitator, komunitas kreatif sebagai penggerak inovasi, dan industri sebagai penyedia solusi teknologi,” lanjut Wamen Ekraf Irene.
Diskusi juga menyinggung fenomena konten viral dan aktivitas daring seperti jualan online di platform seperti TikTok. Menurut Wamen Ekraf Irene, selama membawa nilai ekonomi, budaya, dan etika, semua ekspresi digital dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami tidak mengecilkan kreativitas yang nyeleneh, tapi tugas kita adalah mendorong bentuk-bentuk kreativitas yang membangun dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kementerian Ekraf memastikan arah kebijakan ekonomi kreatif akan terus adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti AI, blockchain, dan Web3. Inovasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk peningkatan daya saing ekraf di tingkat global, dengan fokus utama pada penciptaan ruang kerja kreatif dan inklusif bagi generasi muda.
Podcast Bellpods sendiri dikenal sebagai kanal edukatif yang mengangkat tema teknologi dan kreativitas dengan pendekatan dialog yang santai namun substansial. Episode ini diharapkan menjadi pemantik kolaborasi antara kreator muda, komunitas digital, dan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif digital yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!