Di Tengah Gejolak Global, Kemenperin Jaga Keberlanjutan Industri Agro
📅 Selasa, 21 Apr 2026, 21:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri agro nasional, khususnya sektor makanan dan minuman (mamin), tetap mampu menjaga keberlanjutan produksi di tengah dinamika global yang memengaruhi harga bahan baku plastik. Pemerintah terus mendorong langkah pengembangan bahan kemasan alternatif guna memperkuat daya saing industri nasional.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyampaikan bahwa ketegangan geopolitik saat ini di kawasan Timur Tengah (Timteng) merupakan momentum yang baik untuk mendorong industri kemasan ramah lingkungan untuk mampu berdaya saing dan menjadi lebih kompetitif.
“Industri mamin merupakan pengguna produk plastik untuk berbagai kebutuhan kemasan. Kami melihat situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Putu di Jakarta, Selasa (21/4).
Menurutnya, pelaku industri telah mulai melakukan diversifikasi material kemasan dengan memanfaatkan kertas, kaca, logam, serta bahan plastik hasil daur ulang seperti recycled PET (rPET). Khusus kemasan berbahan dasar kertas, Kemenperin menilai industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat untuk mendukung transformasi kemasan.
Pada 2025, industri ini didukung 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya mencapai USD 8,2 miliar, sekaligus menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar, terutama untuk kebutuhan ritel, industri mamin, e-commerce, dan logistik. Saat ini kita juga fokus dalam pengembangan aseptic packaging yang banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dingin (cold chain). Ke depan, inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating dan active paper packaging perlu terus diperkuat melalui riset dan investasi,” kata Putu.
Selain kemasan berbasis kertas, Kemenperin juga mendorong pengembangan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut. Sejumlah pelaku industri dalam negeri telah mulai memproduksi kemasan ramah lingkungan berbasis pati singkong maupun seaweed-based packaging. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri tersebut karena merupakan salah satu produsen utama ubi kayu dan rumput laut dunia.
“Saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha bioplastik berbahan baku ubi kayu dan rumput laut. Berdasarkan data SIINas, total kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu sebesar 8 ribu ton per tahun, sedangkan total kapasitas industri bioplastik berbahan baku rumput laut sebesar 28 ton per tahun,” ungkap Putu.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kemenperin terus memantau perkembangan global. Fokus kebijakan pemerintah adalah memperkuat struktur industri nasional melalui diversifikasi bahan baku, penguatan industri hulu, dan diversifikasi produk kemasan agar industri agro Indonesia semakin tangguh terhadap gejolak eksternal,” pungkas Putu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!