Bank Dunia: Pertumbuhan PDB Indonesia Terus Melambat
📅 Kamis, 02 Mei 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES
JAKARTA - Bank Dunia menyatakan kendati ekonomi Indonesia sudah cukup bagus, tetapi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia terus mengalami perlambatan.
Senior Economist Bank Dunia, Alexandre Hugo Laure, dalam pertemuan dengan dunia usaha di Surabaya, Selasa (30/4), mengatakan pertumbuhan sektor manufaktur yang menjadi penyumbang utama ekonomi Indonesia jika dibandingkan dengan berbagai negara, maka pertumbuhannya terbilang cukup lambat, kalah dibanding Tiongkok, Meksiko, Mesir, Nigeria, bahkan dengan India.
Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh minimnya penelitian dan pengembangan serta rendahnya adaptasi teknologi dan inovasi yang dilakukan oleh industri besar di Indonesia.
Pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan industri di Indonesia, lanjutnya, hanya sekitar sembilan persen, jauh tertinggal dibandingkan kompetitor.
"Hanya sekitar lima persen perusahaan yang memperkenalkan inovasi, baik inovasi produk atau proses. Mengadopsi teknologi dan efisiensi energi juga sangat kecil di Indonesia dan hanya sedikit perusahaan yang mengadopsi praktik manajemen ramah lingkungan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengatakan peningkatan kinerja bisa dilakukan dengan menguasai pasar dalam negeri karena saat ini pasar di luar negeri tengah melambat.
Masalahnya, Indonesia masih memiliki tantangan melalui platform e-commerce, karena transaksi antara dua negara tidak lagi Business to Business (B to B), tetapi polanya sudah menjadi Business to Consumer (B to C).
"Dengan B to C, seakan-akan impor Indonesia kecil, tetapi ketika jika disadari, ternyata volumenya sangat besar sehingga menghambat produk dalam negeri. Oleh karena itu, harus ada kebijakan yang benar-benar pro terhadap industri domestik kita dalam rangka merebut kembali pasar lokal," kata Adik seperti dikutip dari Antara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Industri Pengolahan
Pada kesempatan lain, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum pandemi selalu di kisaran 5 persen saja. Tertinggi pada 2018 sebesar 5,17 persen, dan setelah pandemi tertinggi di pada 2022 sebesar 5,31 persen. Tahun 2023, pertumbuhan ekonomi turun menjadi 5,05 persen, cenderung di bawah rata-rata pertumbuhan 2017-2019.
Dari sisi produksi, perlambatan disebabkan oleh lemahnya pertumbuhan sektor industri pengolahan. Hal itu terlihat pada pertumbuhannya hanya 4,64 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi keseluruhan.
"Padahal, untuk menuju negara maju, pertumbuhan industri manufaktur haruslah lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekonomi," papar Aloysius.
Untuk mendorong pertumbuhan sektor pengolahan maka membutuhkan dukungan pemerintah untuk memacu produktivitas dengan cara mengedepankan aktivitas riset dan pengembangan serta adaptasi teknologi dan inovasi.
"Aktivitas semacam itu tidaklah murah, dan tidak menarik dilakukan di tengah adanya problem kelembagaan yang tidak kondusif, seperti ketidakkonsistenan kebijakan ataupun belum beresnya pemberantasan korupsi. Government Effectiveness Index Indonesia tahun 2023 memang telah baik dibandingkan 2022, yakni dari 64,76 menjadi 66,04. Namun, hal ini tampaknya masih belum cukup sehingga upaya serius masih perlu dilakukan. Artinya, perlu ada iklim yang mendukung dan menarik aktivitas riset dan pengembangan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!