AS Keluar dari UNESCO karena Palestina, Gabung Kembali karena Tiongkok
📅 Selasa, 13 Jun 2023, 09:15 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: AP
PARIS - Amerika Serikat berencana untuk bergabung kembali dengan UNESCO dan membayar iuran lebih dari 600 juta dolar AS, badan PBB itu mengumumkan.
Bergabungnya kembali AS terjadi setelah perselisihan satu dekade yang dipicu oleh langkah organisasi itu memasukkan Palestina sebagai anggota.
Pejabat AS mengatakan,keputusan untuk kembalidimotivasi oleh kekhawatiran bahwa Tiongkok mengisi celah yang ditinggalkan AS dalam pembuatan kebijakan UNESCO, terutama dalam menetapkan standar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pendidikan teknologi di seluruh dunia.
Menurut Associates Press, pemungutan suara oleh negara-negara anggota UNESCO dalam dilakukan beberapa minggu mendatang. Tapi tampaknya persetujuan hanya formalitas setelah tepuk tangan meriah yang menyambut pengumuman di kantor pusat UNESCO di Paris, Senin (12/6). Tidak ada satu negara pun yang mengajukan keberatan atas kembalinya negara yang pernah menjadi penyandang dana terbesar badan tersebut.
AS dan Israel berhenti mendanai UNESCO setelah badan itu memilih untuk memasukkan Palestina sebagai negara anggota pada 2011. Pemerintahan Trumpmemutuskan untuk menarik diri dari badan tersebut pada tahun berikutnya, mengutip bias anti-Israel yang telah berlangsung lama dan masalah manajemen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur jenderal UNESCO Audrey Azoulay telah bekerja untuk mengatasi masalah tersebut sejak pemilihannya pada 2017, dan tampaknya membuahkan hasil.
"Ini momen bersejarah bagi UNESCO," katanya, Senin."Ini juga merupakan hari penting bagi multilateralisme."
Deputi Menteri Luar Negeri AS untuk Manajemen dan Sumber Daya Richard Verma pekan lalu mengirimkan surat kepada Azoulay yang meresmikan rencana bergabung kembali.Dia mencatat kemajuan dalam mendepolitisasi debat tentang Timur Tengah dan mereformasi manajemen badan tersebut, menurut surat yang dikirim langsung, diperoleh oleh AP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keputusan tersebut merupakan dorongan besar bagi Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB, yang dikenal denganprogram Warisan Duniaserta proyek untuk melawan perubahan iklim dan mengajar anak perempuan membaca.
Sementara keanggotaan Palestina di UNESCO adalah pemicu mundurnya AS dari badan tersebut, kembalinya AS lebih karena pengaruh Tiongkok yang semakin besar.
Wakil Menteri Luar Negeri untuk Manajemen AS John Bass mengatakan Maret lalu bahwa ketidakhadiran AS di UNESCO telah memperkuat Tiongkok, dan "melemahkan kemampuan kami untuk menjadi efektif dalam mempromosikan visi kami tentang dunia yang bebas."
Dia mengatakan UNESCO adalah kunci dalam menetapkan dan membentuk standar untuk pengajaran teknologi dan sains di seluruh dunia, "jadi jika kita benar-benar serius tentang persaingan era digital dengan Tiongkok... kita tidak boleh absen lagi."
Keputusan AS tidak membahas status Palestina.Meski menjadi anggota UNESCO, di lapangan, Palestina semakin jauh dari kemerdekaan daripada sebelumnya.Belum ada pembicaraan damai yang serius selama lebih dari satu dekade, dan pemerintahan baru Israel dipenuhi oleh kelompok garis keras yang menentang kemerdekaan Palestina.
Duta Besar Palestina untuk UNESCO tidak mengomentari keputusan AS tersebut.Satu-satunya utusan yang tidak memuji adalah duta besar Tiongkok, Jin Yang.Dia mencatat dampak negatif dari ketidakhadiran AS, dan menyatakan harapan bahwa langkah itu berarti Washington serius dengan multilateralisme.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!