Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Apa Kata Dubes Russia Tentang Operasi Khusus Militer ke Ukraina!

📅 Minggu, 19 Feb 2023, 21:25 WIB | Oleh:
Apa Kata Dubes Russia Tentang Operasi Khusus Militer ke Ukraina! Doc: Kris Kaban
Ket. Dubes Russia untuk Indonesia Mrs. Lyudmila Georgievna Vorobieva

Jakarta - Hari Kamis 16 Februari 2023 lalu Koran Jakarta berkesempatan untuk wawancara dengan Duta Besar Russia untuk Indonesia H.E. Mrs. Lyudmila Georgievna Vorobieva. Ada banyak pertanyaan yang diajukan, salah satunya adalah apa yang menjadi latar belakang operasi militer khusus Russia di Ukraina? Berikut ini kami turunkan jawabannya secara lengkap.

Lyudmila Georgievna Vorobieva : Akar dari krisis di Ukraina hari ini bukan berawal setahun yang lalu. Tapi telah terjadi jauh sebelumnya ketika propaganda barat menyebutkan ada "serangan Rusia ke Ukraina," yang sesungguhnya kebohongan besar. Karena bertahun-tahun kami berusaha mengatasi masalah di Ukraina.

Presiden kami menegaskan bahwa Rusia tidak pernah memulai perang. Rusia justru menghentikan perang. Apa yang sedang kami lakukan saat ini adalah mengakhiri perang yang sudah dimulai sejak 2014. Pada tahun 2014 itu, sebuah pemerintah yang sangat Ruso-phobia mengambil kekuasaan secara illegal lewat sebuah kudeta yang didukung oleh negara-negara barat. Sesungguhnya baratlah yang membawa Ruso-phobia dan kelompok Neo-Nazi mengambil kekuasaan di Kyiev. Tentu saja ini menunjukkan standar ganda kemunafikan barat, karena Neo-Nazi adalah ideology terlarang di seluruh dunia setelah perang dunia kedua. Tapi barat justru mendukung Ruso-Phobia dan Neo-Nazi di Ukraina. Setelah berkuasa pemerintahan Ukraina dan Neo-Nazinya sangat Ruso-Phobia.

Mereka melarang penggunaan bahasa Rusia dan semua kebudayaan Rusia. Itu sama saja kalau ada pelarangan bahasa Jawa di Jawa atau pelarangan bahasa Bali di Bali. Bagaimana itu bisa terjadi, ini sangat tidak mungkin!

Karena semua orang Ukraina bisa berbahasa Rusia dan 50% menganggap dirinya etnis Rusia. Mereka orang Ukraina yang beretnis Rusia. Dan Ada 3 wilayah di Ukraina didominasi orang Rusia yaitu Crimea yang 90%nya orang Rusia. Lugansk-Donetz yang 90% orang Rusia,-- mereka memprotes dan menolak kebijakan Kyiev seperti itu.

Dan bukannya menyelesaikan persoalan ini dengan damai lewat dialog, pemerintahan Kyiev mengirim tentara ke Lugansk-Donetz dan mereka siapkan juga tentara ke Crimea. Crimea akhirnya memvoting bergabung dengan Rusia dan kami menerimanya.

Kami melindungi mereka. Lugansk -Donetz memilih merdeka lepas dari Kyiev. Saat itu, kami tidak menerima mereka, kami tidak mengakui mereka sebagai bagian dari Rusia, walaupun mereka menginginkannya.

Kami berusaha mengatasi persoalan ini dengan mendorong kepemimpinan di Luganks-Donetz dan Kyiev untuk duduk bersama untuk mencari solusi bersama. Hal ini juga di dukung oleh negara-negara Eropa.

Dan pada tahun 2015, Perjanjian Minks di tandatangani. Dalam perjanjian tersebut tertulis roadmap yang sangat jelas untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di dalam Ukraina yang didukung oleh Dewan Keamanan PBB yang diadopsi dalam Resolusi 2022 sehingga menjadi bagian dari Hukum Internasional.

Menurut perjanjian itu, Kyiev secara hukum harus menerapkan otonomi khusus di Luganks-Donetz di dalam Ukraina dan harus mengijinkan sekolah-sekolah Rusia, boleh berbahasa Rusia boleh menjalankan budaya Rusia.

Apakah semua itu terjadi? Tidak pernah! Dan sekarang kita dengar pernyataan seorang pimpinan barat, Engela Merkel, mantan kanselir Jerman dan Zelensky terang-terangan mengatakan bahwa Barat dan Kyiev tidak ada niatan untuk berkomitmen pada perjanjian Minsk.

Secara mendasar mereka telah berbohong,- kepada Rusia, kepada Luganks-Donetz dan kepada seluruh masyarakat internasional. Mereka hanya ingin menolak perjanjian itu untuk memperpanjang waktu mempersenjatai Ukraina.

Sementara itu selama 8 tahun ini mereka menjadikan Ukraina sebagai instrumen militer untuk menyerang Rusia. Setidaknya mereka berhasil. Jadi selama 8 tahun ini kami mendesak Kyiev untuk kembali berkomitmen pada perjanjian Minsk.

Mendesak para pendukung baratnya untuk mendesak Kyiev berkomitmen pada perjanjian itu. Tapi mereka malahan mengirim tentara, membom Lugansk Donetz, membunuh 14,000 orang termasuk anak-anak, perempuan dan orang tua. Delapan tahun mereka menghancurkan infrastruktur publik. Masakan kami harus mengabaikan semua itu!

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Ekonomi
Kuartal I, Hilirisasi Nikel...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.