Lampu Kuning! Penciptaan Lapangan Kerja Memburuk
Kamis, 29 Okt 2026, 00:16 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA- Kondisi penciptaan lapangan kerja di Indonesia dinilai memburuk dalam enam bulan terakhir.
Hal itu terungkap dalam Survei Ahli Ekonomi Semester II-2026 yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Sebanyak 73% dari 63 ahli ekonomi yang menjadi responden memberikan penilaian negatif. Survei dilaksanakan pada 21 September hingga 13 Oktober 2026.
Sebanyak 30 ekonom atau 48% responden menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah dibanding enam bulan sebelumnya, dan 16 ekonom atau 25% bahkan menilai jauh lebih rendah.
Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa menilai hasil survei tersebut sangat sesuai kondisi riil di lapangan.
"Hasil survey ahli ekonomi tersebut menurut saya sinkron dengan salah satu keluhan utama masyarakat terkait minimnya penciptaan lapangan kerja," ujar Awan, Rabu (28/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang kerap diklaim pemerintah tidak boleh membuat lengah.
"Meskipun tingkat pengangguran terbuka menurun, tetapi angkanya masih cukup besar. Belum lagi tingkat pengangguran tersembunyi atau setengah pengangguran di Indonesia yang juga masih cukup tinggi," katanya.
Awan menyoroti masih maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor padat karya yang butuh perhatian serius.
"Terlebih masih terjadinya PHK di berbagai sektor padat karya memerlukan perhatian serius pemerintah," tegasnya.
Ia menilai pekerjaan rumah pemerintah ke depan adalah membalikkan arah industrialisasi.
"PR pemerintah ke depan adalah memperbanyak industri padat karya, bukan padat modal," tegasnya.
Menurutnya hilirisasi yang didorong selama ini memang menaikkan produk domestik bruto (PDB), tetapi serapan tenaga kerjanya minimal.
"Yang kita butuh sekarang adalah industri yang menyerap banyak orang," ujar Awan.
Dia mengingatkan Indonesia jangan terjebak pertumbuhan 5 persen tapi minim lapangan kerja atau jobless growth. Jika lapangan kerja tidak tercipta, daya beli melemah, konsumsi rumah tangga turun, dan akhirnya pertumbuhan itu sendiri yang tergerus.
"Selama ini 97 persen lapangan kerja disediakan oleh UMKM. Oleh karena itu perlu terobosan program padat karya yang bertumpu pada peran utama UMKM,"ungkapnya.
Kualitas Turun
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!