Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pembenahan Tata Niaga Beras Mendesak untuk Cegah Penyimpangan

29 Kamis, 29 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh:
Pembenahan Tata Niaga Beras Mendesak untuk Cegah Penyimpangan Pembenahan Tata Niaga Beras Mendesak untuk Cegah Penyimpangan Doc: antara
Ket. beras

Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mendukung langkah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membongkar dugaan manipulasi spesifikasi beras fortifikasi dan penyalahgunaan beras bersubsidi. Namun, ia menilai penindakan perlu diikuti pembenahan aturan klasifikasi beras agar celah penyimpangan dalam tata niaga tidak terus berulang.

Dikutip dari Antara, Firman menilai praktik tersebut bukan hanya merugikan konsumen, tetapi juga menciptakan ketidakpastian standar dan harga beras di pasaran. Karena itu, penegakan hukum perlu berjalan beriringan dengan penyederhanaan regulasi dan pengawasan distribusi.

"Saya mendukung langkah dan gebrakan Pak Mentan Amran Sulaiman dalam membongkar mafia beras fortifikasi," kata Firman di Jakarta.

Firman mengusulkan pemerintah menghapus klasifikasi beras fortifikasi dan menyederhanakan kategori beras menjadi dua jenis, yakni premium dan medium.

"Ini penting agar ada kepastian berusaha dan aturan hukum yang jelas. Kalau aturannya jelas hanya dua jenis, standar SNI-nya jelas, harganya jelas, konsumen tidak bingung," ujarnya.

Di sisi lain, dugaan penyalahgunaan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap distribusi beras bersubsidi. Mentan Andi Amran Sulaiman meminta kepolisian mengusut perkara tersebut hingga ke jaringan yang terlibat.

"Kalau bisa dibongkar sampai akar-akarnya. Kami sebagai Menteri Pertanian, kami memohon kepada Pak Kapolres, kepolisian, ini dibongkar sampai akar-akarnya," kata Amran saat inspeksi mendadak di Toko/Rumah Beras Kayumanis, Matraman, Jakarta Timur, Rabu.

Dalam sidak tersebut, Amran menemukan dugaan penyalahgunaan beras bersubsidi yang dipasarkan sebagai beras premium dengan volume sekitar 600 ton. Ia kemudian melanjutkan pemeriksaan ke kawasan Pasar Induk Beras Cipinang untuk menelusuri dugaan praktik serupa yang diperkirakan berlangsung dalam skala besar.

Amran meminta penyidik menelusuri asal beras, lokasi pengemasan, jalur pemasaran, hingga pihak yang memperoleh keuntungan. Informasi awal mengenai asal beras mengarah ke gudang Bulog di Kelapa Gading, tetapi hal itu masih memerlukan pendalaman melalui penyidikan.

Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa penindakan terhadap pelaku saja belum cukup. Pemerintah perlu memastikan standar klasifikasi mudah dipahami, distribusi beras SPHP dapat ditelusuri, dan pengawasan berjalan efektif. Tanpa pembenahan menyeluruh, program stabilisasi pangan berisiko kehilangan manfaat bagi masyarakat yang menjadi sasaran. YK/and

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
Megapolitan
Tekanan Operasi Patuh Jaya ...
Megapolitan
Dana Bagi Hasil Menunggu Pe...
Megapolitan
Ribuan Warga Jakarta Bersuk...
Luar Negeri
Jumlah Orang Superkaya Tion...
Nasional
Pemerintah Harus Benahi Aks...
Advertisement
Balsa Borong Dua Gol untuk Kemenangan Persib Bandung 2-0 Atas Melbourne Victory

Balsa Borong Dua Gol untuk Kemenangan Persib Bandung 2-0 Atas Melbourne Victory

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.