Pasar Tiongkok Kehilangan Triliunan Dolar karena Persaingan Supremasi AI dengan AS Mulai Berdampak
Selasa, 27 Okt 2026, 15:49 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SWang menilai teknologi embodied AI belum tentu mampu menciptakan keuntungan besar di pasar konsumen massal dalam waktu dekat. Dengan margin yang tipis dan permintaan yang terbatas, perusahaan harus membuktikan bahwa produk-produk tersebut benar-benar memiliki manfaat praktis dan nilai ekonomi yang sepadan dengan biaya pengembangannya.
Meski demikian, prospek industri teknologi Tiongkok tidak sepenuhnya suram. Wang menyebut penelitian AI dan teknologi satelit masih menyimpan potensi. Sektor satelit, khususnya, dinilai memiliki prospek dukungan jangka panjang karena berkaitan dengan kepentingan militer dan strategis negara.
Secara global, ledakan investasi AI juga diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya selama satu tahun ke depan. Namun, besarnya investasi tidak menjamin seluruh perusahaan yang terlibat akan mampu bertahan atau menghasilkan keuntungan.
Di Amerika Serikat, misalnya, Anthropic, perusahaan pembuat chatbot Claude, telah mengajukan dokumen sebagai bagian dari persiapan menuju penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu debut pasar saham terbesar, dengan valuasi atau proyeksi nilai bisnis yang diperkirakan dapat mencapai skala sangat besar.
Sebaliknya, Tiongkok belum memiliki rencana IPO perusahaan teknologi dengan skala sebanding dalam waktu dekat. Perbedaan ini menambah kontras antara perkembangan pasar modal AI di kedua negara, meskipun keduanya sama-sama berlomba mengembangkan teknologi tersebut.
Di dalam negeri, pemerintah Tiongkok menghadapi tekanan untuk mengeluarkan stimulus guna menghidupkan kembali investasi dan menopang perekonomian. Namun, langkah tersebut tidak diperkirakan segera diumumkan di tengah periode politik yang sensitif.
Para pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok tengah berkumpul dalam sidang pleno kelima, pertemuan penting yang menjadi bagian dari persiapan menuju Kongres Partai ke-21 pada tahun depan. Kongres tersebut diperkirakan menjadi momentum bagi Xi Jinping untuk menjalani masa jabatan keempatnya sebagai pemimpin Tiongkok.
Situasi politik itu membuat pengambil kebijakan cenderung berhati-hati terhadap langkah ekonomi yang berisiko menimbulkan ketidakstabilan. Padahal, stimulus tambahan berpotensi membantu mengangkat permintaan dan mendorong investasi di tengah tekanan pasar.
Wang mengingatkan bahwa kebijakan stimulus bukan tanpa risiko. Jika kebijakan tersebut gagal mencapai sasaran, para pengambil keputusan yang bertanggung jawab akan menghadapi konsekuensinya.
Gejolak pasar saham Tiongkok pada akhirnya memperlihatkan tantangan yang lebih besar daripada sekadar persaingan teknologi dengan Amerika Serikat. Beijing tidak hanya harus membuktikan mampu mengembangkan AI yang kompetitif, tetapi juga memastikan teknologi tersebut memiliki pasar, menghasilkan keuntungan, dan dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Besarnya investasi dan dukungan negara mungkin dapat mempercepat pengembangan teknologi. Namun, ketika permintaan konsumen lemah dan akses ke pasar luar negeri semakin terbatas, ambisi menjadi pemimpin AI dunia tetap harus berhadapan dengan ujian paling mendasar dalam bisnis: kemampuan menghasilkan keuntungan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!