Danantara Bongkar Borok BUMN: 52 Persen Merugi, Dividen Negara Cuma Ditopang 8 Perusahaan
Selasa, 27 Okt 2026, 13:36 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
JAKARTA — Besarnya jumlah perusahaan pelat merah ternyata belum sebanding dengan kontribusinya terhadap negara. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengungkapkan, lebih dari separuh perusahaan dalam portofolionya justru merugi, sementara hampir seluruh dividen terkonsentrasi pada segelintir perusahaan.
Dihimpun dari berbagai sumber, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria membeberkan, sebanyak 52 persen dari total 1.074 perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Danantara mengalami kerugian. Nilai kerugian tersebut mencapai 23 triliun rupiah setiap tahun.
Temuan itu menjadi salah satu alasan Danantara menyiapkan perombakan besar-besaran terhadap struktur badan usaha milik negara (BUMN). Pemerintah ingin menyederhanakan perusahaan yang jumlahnya mencapai ribuan entitas, termasuk anak dan perusahaan turunan BUMN, agar pengelolaannya lebih efisien.
Dony menyampaikan kondisi tersebut dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10).
Persoalan yang dihadapi Danantara bukan sekadar banyaknya perusahaan yang merugi. Kontribusi terhadap penerimaan negara juga dinilai sangat timpang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dony mengungkapkan, sekitar 97 persen dividen yang diterima Danantara hanya berasal dari delapan perusahaan. Artinya, ribuan entitas lainnya belum memberikan kontribusi dividen dalam proporsi yang sebanding dengan jumlah perusahaan yang dikelola.
“Lebih mudah bagi saya mengelola delapan perusahaan yang menyumbang 97 persen dividen daripada mengelola 1.074 perusahaan,” kata Dony, sebagaimana diberitakan Katadata dan detikFinance.
Pernyataan tersebut memperlihatkan tantangan besar dalam pengelolaan aset negara. Banyaknya perusahaan tidak otomatis membuat kontribusi terhadap kas negara semakin besar, terutama apabila struktur bisnisnya tumpang tindih dan kinerja keuangannya belum sehat.
Pemborosan Capai 31 Triliun rupiah Setahun
Selain kerugian operasional, Danantara menemukan persoalan lain berupa inefisiensi akibat struktur bisnis yang berlapis dan transaksi antarperusahaan dalam satu kelompok usaha.
Nilai pemborosan akibat inefisiensi tersebut diperkirakan mencapai 2 miliar dolar AS per tahun, atau sekitar 31 triliun rupiah berdasarkan perkiraan konversi dalam pemberitaan.
Jika digabungkan dengan kerugian perusahaan yang mencapai 23 triliun rupiah per tahun, potensi penghematan dari pembenahan kedua persoalan tersebut diperkirakan mencapai 3,5 miliar dolar AS setiap tahun.
Dony menilai, penyederhanaan struktur perusahaan dapat menjadi jalan untuk menekan beban tersebut sekaligus meningkatkan kontribusi BUMN terhadap negara.
“Pada dasarnya, jika saya menutup perusahaan-perusahaan ini, kami bisa langsung menghemat 3,5 miliar dolar AS setiap tahun,” ujarnya, seperti dikutip detikFinance.
Namun, pernyataan itu merupakan gambaran potensi penghematan dari penataan perusahaan yang merugi dan tidak efisien, bukan pengumuman bahwa seluruh perusahaan tersebut pasti akan ditutup.
Ratusan Perusahaan Bakal Dirampingkan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!