Hati-hati Pilih Maskapai, Survei Ungkap 75 Persen Pilot Eropa Pernah Tertidur di Kokpit, Nyaris Seperempat Tetap Terbang Meski Kelelahan
Senin, 26 Okt 2026, 15:15 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SMeski demikian, konsistensi temuan selama tiga tahun terakhir menunjukkan adanya persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Holder mencontohkan Finlandia dan Belanda sebagai negara yang memperlihatkan bahwa budaya pelaporan kelelahan yang lebih kuat dapat diwujudkan.
Survei juga menemukan perbedaan mencolok antarnegeri. Pilot yang bekerja untuk maskapai berbasis di Irlandia dan Malta termasuk yang paling khawatir terhadap kemungkinan pembalasan manajemen dan paling tidak percaya terhadap sistem pelaporan kelelahan.
Sementara itu, kecenderungan tetap terbang ketika lelah paling banyak dilaporkan pilot di Spanyol, Irlandia, dan Prancis.
Sekitar dua dari lima pilot yang bekerja untuk maskapai berbasis di Spanyol mengaku biasanya tetap terbang ketika lelah. Angkanya mencapai sekitar sepertiga di Irlandia dan Prancis.
Sebagai perbandingan, hanya sekitar satu dari 10 pilot yang bekerja untuk maskapai berbasis di Inggris mengaku melakukan hal serupa.
Persoalan kepercayaan juga terlihat pada maskapai berbiaya rendah dan perusahaan penyedia layanan wet-lease atau sewa pesawat beserta awak dan layanan pendukungnya.
Hanya 15,6 persen pilot di maskapai berbiaya rendah yang percaya bahwa perusahaan mereka mengelola risiko kelelahan dengan baik. Di kalangan operator ACMI atau wet-lease, angkanya sedikit lebih tinggi, yakni 18,6 persen.
Tekanan memperpanjang jam kerja
Survei tersebut turut menyoroti penggunaan commander's discretion, yakni kewenangan kapten dalam keadaan luar biasa untuk memperpanjang masa tugas awak atau mengurangi waktu istirahat sesuai ketentuan yang berlaku.
Hampir dua dari lima pilot mengaku pernah menggunakan kewenangan tersebut setidaknya sekali dalam sebulan sebelum survei.
Namun, hampir 70 persen responden menyatakan khawatir apabila menolak permintaan untuk memperpanjang masa tugas. Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai apakah kewenangan yang semestinya digunakan dalam keadaan luar biasa justru menimbulkan tekanan tambahan bagi awak penerbangan.
Kekhawatiran terbesar dilaporkan oleh pilot di maskapai berbiaya rendah, operator wet-lease, serta perusahaan penerbangan yang terdaftar di Irlandia dan Malta.
Presiden European Cockpit Association, Kapten Tanja Harter, menegaskan bahwa tanggung jawab pengelolaan risiko kelelahan tidak seharusnya dibebankan kepada pilot semata.
“Hal ini tidak bisa begitu saja diserahkan kepada kami – para pilot – untuk dikelola, sementara kami berada di kokpit dan diharapkan membawa penumpang kami dengan selamat ke tujuan mereka,” katanya.
Harter mendesak Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa memperkuat aturan manajemen kelelahan dan memastikan maskapai menjalankan sistem pelaporan yang tidak menghukum pilot yang melaporkan kondisi mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!