Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

ADBI Ingatkan RI, UKM Formal Jangan Cuma Jadi Target

26 Senin, 26 Okt 2026, 16:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
ADBI Ingatkan RI, UKM Formal Jangan Cuma Jadi Target ADBI Ingatkan RI, UKM Formal Jangan Cuma Jadi Target Doc: ANTARA/ Rizka Khaerunnisa.
Ket. Dekan sekaligus CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro (kedua dari kiri) berbicara dalam "Kadin Geoeconomics Policy Dialogue" di Jakarta.

JAKARTA – Dekan sekaligus CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro menyoroti banyaknya usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di sektor informal sehingga Indonesia perlu mendorong transformasi usaha ke sektor formal guna memperkuat perekonomian.

Bambang mengatakan, sektor informal memang dapat menjadi penyangga perekonomian ketika terjadi krisis. Namun, ketergantungan pada sektor tersebut tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang, sehingga Indonesia perlu mendorong UKM beralih ke sektor formal agar perekonomian dapat berkembang lebih kuat.

“Yang perlu kita bangun (untuk UKM) adalah peningkatan dari sektor informal menuju sektor formal,” kata Bambang dalam Kadin Geoeconomics Policy Dialogue di Jakarta, Senin (26/10).

Menurutnya, Indonesia dapat mempelajari strategi industrialisasi Jepang dan Korea Selatan yang tidak hanya mengandalkan konglomerasi besar, tetapi juga memperkuat peran UKM.

Di Korea Selatan, pemerintah memberikan kebijakan industri, insentif, dan dukungan kepada konglomerasi, seperti Samsung dan Hyundai, dengan tenggat waktu serta persyaratan yang jelas.

Namun, jelas Bambang, proteksi pemerintah tidak boleh diberikan tanpa batas waktu. Setelah memperoleh perlindungan untuk mengembangkan industri dan menguasai pasar domestik, perusahaan harus mampu bersaing di pasar global melalui kegiatan ekspor.

Ia menekankan, perusahaan tidak dapat hanya mengandalkan teknologi yang dikembangkan pihak lain untuk memenangkan persaingan global. Inovasi menjadi kunci untuk menantang pemain yang telah lebih dahulu menguasai pasar. Hal tersebut tercermin dari besarnya investasi Korea Selatan dalam riset dan pengembangan (research and development/R&D).

Bambang juga mengingatkan, kegiatan R&D sebaiknya tidak hanya bertumpu pada lembaga penelitian pemerintah atau birokrasi, tetapi juga ditempatkan di perusahaan industri agar inovasi dapat langsung mendukung pengembangan produk dan daya saing usaha.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan UKM terlibat dalam proses industrialisasi. Ia mencontohkan, pemerintah Jepang dan Korea Selatan membangun rantai pasok (supply chain) yang menghubungkan perusahaan besar dengan UKM, sehingga usaha kecil dapat menjadi pemasok komponen bagi industri elektronik, otomotif, dan sektor manufaktur lainnya.

“Pada akhirnya, UKM tersebut menjadi pemasok komponen untuk Samsung, pemasok untuk industri otomotif Hyundai, industri elektronik, dan sektor industri lainnya. Mereka memulainya dari skala UKM,” jelas dia.

Keterlibatan UKM dalam rantai pasok tersebut, imbuh Bambang, tidak cukup hanya melalui pemberian kontrak dari perusahaan besar. Pemerintah juga perlu melatih pelaku UKM agar memahami proses manufaktur dan menguasai teknologi yang dibutuhkan untuk memenuhi standar industri.

“Pemahaman mengenai teknologi bagi UKM ini sangat krusial di Jepang dan Korea, sehingga mereka benar-benar layak menjadi bagian dari rantai pasok industri besar. Begitulah caranya UKM bertransformasi menjadi tulang punggung perekonomian,” kata Bambang.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya etika bisnis dalam menjaga keberlangsungan UKM. Menurutnya, perusahaan besar perlu berfokus pada bisnis utama dan tidak mengambil alih pasar yang semestinya dapat menjadi ruang usaha bagi UKM.

Bambang mencontohkan, perusahaan besar di Jepang seperti Sumitomo atau Mitsubishi tidak harus merambah bisnis restoran sushi meskipun usaha tersebut berpotensi menghasilkan keuntungan besar. Sebaliknya, perusahaan besar dapat berfokus pada industri berat dan manufaktur, sementara UKM mengembangkan usaha di sektor jasa, termasuk kuliner.

Ia menilai, Indonesia masih perlu memperkuat etika bisnis agar konglomerasi besar tidak berhadapan langsung dengan UKM dalam persaingan yang tidak seimbang. Menurut Bambang, pembagian ruang usaha yang lebih proporsional dapat membantu UKM berkembang tanpa harus menghadapi persaingan langsung dengan perusahaan bermodal besar.

“Saya rasa ini adalah area di mana Indonesia masih perlu menyelaraskan dan mematangkan etika bisnisnya, demi memastikan tidak ada persaingan langsung secara head-to-head antara satu konglomerasi raksasa melawan UKM, misalnya di bisnis kuliner atau F&B. Menurut saya hal itu tidak adil, terutama bagi para pelaku UKM,” kata Bambang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

BPBD: Potensi Hujan Mulai Muncul di Kota Tangerang

34 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
BPBD: Potensi Hujan Mulai M...
Ekonomi
Rupiah Hari Ini Melemah, Pa...
Ekonomi
Garuda Belum Beres, Merger ...
Ekonomi
SKK Migas Gaspol, Potensi 1...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jenis Pelanggaran Lalu Lintas yang akan Ditindak Selama Operasi Patuh Jaya 2026

Jenis Pelanggaran Lalu Lintas yang akan Ditindak Selama Operasi Patuh Jaya 2026

26 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.