Hati-hati Pilih Maskapai, Survei Ungkap 75 Persen Pilot Eropa Pernah Tertidur di Kokpit, Nyaris Seperempat Tetap Terbang Meski Kelelahan
Senin, 26 Okt 2026, 15:15 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
BRUSSELS – Keselamatan penerbangan di Eropa menghadapi persoalan serius terkait kelelahan pilot. Survei terhadap hampir 7.200 kapten dan perwira pertama mengungkapkan, tiga dari empat pilot pernah mengalami tidur singkat tanpa disengaja saat mengoperasikan pesawat. Bahkan, hampir seperempat pilot mengaku tetap terbang meski merasa terlalu lelah untuk menjalankan tugas.
Temuan European Cockpit Association (ECA) yang dirilis Senin (26/10) itu juga memperlihatkan tekanan yang dihadapi pilot untuk memperpanjang jam kerja, sekaligus kekhawatiran terhadap kemungkinan sanksi apabila mereka menyatakan diri tidak layak terbang akibat kelelahan.
Dari The Guardian, dalam survei yang dilakukan pada Agustus tersebut, sebanyak 24 persen pilot mengaku biasanya memilih tetap terbang ketimbang melaporkan diri tidak layak bertugas karena kelelahan. Sementara itu, 16,8 persen responden mengatakan lebih memilih mengambil izin sakit.
Persoalan ini bukan sekadar menyangkut rasa kantuk. Dalam dunia penerbangan, kelelahan dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan, memperlambat reaksi, menurunkan kewaspadaan, hingga menghambat respons terhadap situasi darurat.
Jam kerja panjang, waktu istirahat yang tidak memadai, jadwal penerbangan tidak teratur, serta perjalanan melintasi zona waktu menjadi sejumlah faktor yang dapat mengacaukan siklus tidur alami pilot.
Berdasarkan ketentuan keselamatan penerbangan Eropa, maskapai diwajibkan memiliki sistem untuk mengidentifikasi, memantau, dan mengelola risiko kelelahan awak pesawat.
Namun, hasil survei tersebut menunjukkan bahwa persoalan itu masih jauh dari selesai.
Sebanyak 75 persen responden mengaku mengalami setidaknya satu kali microsleep, yakni episode tidur singkat yang tidak disengaja, ketika mengoperasikan pesawat dalam empat minggu sebelum survei.
Pilot yang bekerja untuk maskapai berbasis di Irlandia dan Malta melaporkan tingkat kejadian microsleep tertinggi. Lebih dari sepertiga responden juga mengatakan tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan terakumulasi dari waktu ke waktu.
Takut melaporkan kelelahan
Di tengah tingginya angka kelelahan, hanya sekitar satu dari tiga pilot yang mengatakan biasanya melaporkan diri tidak layak bertugas ketika mengalami kondisi tersebut.
Sebaliknya, separuh responden mengakui pernah mengoperasikan penerbangan dalam tiga bulan sebelum survei, meskipun semestinya menyatakan diri terlalu lelah untuk terbang.
Kekhawatiran terhadap reaksi manajemen diduga menjadi salah satu penghambat pelaporan. Hampir separuh pilot mengaku takut menghadapi konsekuensi negatif apabila melaporkan kelelahan. Sementara itu, hanya 11,9 persen yang menyatakan percaya terhadap sistem pelaporan kelelahan di maskapai tempat mereka bekerja.
Ian Holder, direktur pelaksana konsultan keselamatan penerbangan Baines Simmons, menilai hasil survei tersebut memperlihatkan adanya perbedaan yang terus bertahan dalam cara maskapai dan otoritas nasional menangani risiko kelelahan.
“Survei ini menangkap bagaimana pilot Eropa mengalami manajemen risiko kelelahan dalam praktiknya,” kata Holder.
Ia mengingatkan bahwa hasil tersebut menggambarkan pengalaman langsung para pilot, bukan pengukuran langsung terhadap dampak kelelahan pada keselamatan penerbangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!