Festival Bandung Photography Month 11 “Reclaim”, Perluas Ruang Pamer Fotografi di Area Publik
📅 Minggu, 18 Okt 2026, 14:45 WIB | Oleh: Ilham SudrajatPendekatan serupa juga diterapkan pada karya tulis yang membahas kritik fotografi, arsip, serta berbagai persoalan dalam praktik fotografi.
Bagi Baskara, “Reclaim” tidak hanya menjadi tema pameran, tetapi juga berkaitan dengan upaya merebut kembali ruang, gagasan, dan ekosistem fotografi yang lebih ideal.
Ia berharap keberadaan BPM dapat menginspirasi komunitas di kota-kota lain untuk menyelenggarakan festival serupa tanpa harus selalu mengandalkan skala besar atau konsep yang mewah.
“Harapannya mudah-mudahan bisa men-trigger teman-teman di kota-kota lain juga untuk membuat festival,” tutur dia.
Pandangan mengenai pentingnya ruang pamer alternatif juga disampaikan Ncis, salah satu fotografer yang karyanya ditampilkan dalam BPM 11.
Ia menghadirkan karya tentang Hari Rusli, sosok yang dikenalnya sejak masih duduk di bangku SMP. Melalui foto-foto tersebut, Ncis menggambarkan kesan terhadap Hari Rusli sebagai pribadi yang unik, jahil, tetapi memiliki sisi lembut.
Menurut Ncis, daya tarik BPM terletak pada keberaniannya menghadirkan pameran di lokasi yang tidak biasa. Konsep tersebut memberikan alternatif bagi masyarakat untuk menikmati fotografi tanpa harus selalu datang ke galeri formal.
“Bandung Photography Month dari tahun ke tahun selalu unik, di luar nalar pameran yang biasa,” ungkap Ncis.
Ia menilai, masih diperlukan lebih banyak ruang terbuka untuk menampilkan karya-karya visual di Bandung. Ketersediaan ruang pamer alternatif, menurutnya, dapat memberikan kesempatan bagi para fotografer dan penyelenggara kegiatan seni untuk memperluas jangkauan karya mereka kepada masyarakat.
Harapan serupa disampaikan Gatot Gunawan, seniman performing arts yang mengisi pertunjukan pada pembukaan BPM 11.
Dalam penampilannya, Gatot menerjemahkan tema “Reclaim” melalui gerak tari yang terinspirasi dari sejumlah foto dalam pameran. Foto-foto yang berkaitan dengan seni tari keraton Yogyakarta, Patrice Lumumba, Palestina, hingga Peristiwa Bandung Lautan Api menjadi sumber inspirasinya.
Gatot melihat karya-karya tersebut sebagai representasi pengorbanan, penderitaan, dan perjuangan yang dapat disampaikan melalui medium fotografi maupun seni pertunjukan.
Melalui gerak tari, ia berupaya menghubungkan dokumentasi visual dengan cerita sejarah dan pengalaman manusia yang dapat dipahami oleh generasi muda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!