ASEAN Energy Outlook 9: Konsumsi Energi ASEAN Bisa Dipangkas Hampir Separuh
📅 Selasa, 13 Okt 2026, 16:45 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohUntuk memaksimalkan manfaat tersebut, negara-negara ASEAN membutuhkan perencanaan infrastruktur yang terkoordinasi, standar teknis yang selaras, dan aturan pasar yang mendukung perdagangan listrik lintas batas. Kerja sama tersebut menjadi penting agar integrasi jaringan dapat berjalan secara andal dan memberikan manfaat bagi negara-negara yang terlibat.
Transformasi energi ASEAN juga membutuhkan pembiayaan dalam skala besar, tidak hanya untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Skenario ACTS turut mendorong perubahan teknologi di sektor industri, transportasi, bangunan komersial, dan rumah tangga, termasuk pembangunan jaringan listrik domestik maupun lintas negara.
AEO9 memperkirakan kebutuhan investasi kumulatif dalam skenario ACTS mencapai sekitar USD 14,1 triliun hingga 2060. Nilai tersebut setara dengan rata-rata sekitar USD 405 miliar per tahun untuk mendukung elektrifikasi, pengembangan energi terbarukan, dan integrasi energi regional.
Meski demikian, pemenuhan kebutuhan investasi tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah pembiayaan. ASEAN juga memerlukan daftar proyek yang kredibel dan siap didanai, perencanaan terintegrasi, kontrak yang layak dibiayai atau bankable, akses jaringan yang transparan, serta pembagian risiko yang adil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Khusus untuk infrastruktur lintas batas, negara-negara yang terlibat perlu menyepakati mekanisme pembagian biaya dan skema pembiayaan yang jelas. Kepastian tersebut dapat membantu mengurangi hambatan investasi sekaligus memberikan landasan bagi pelaksanaan proyek energi regional dalam skala besar.
AEO9 turut menempatkan target ASEAN pada 2030 sebagai tonggak percepatan implementasi, bukan sebagai akhir dari proses transisi energi. Hal ini penting karena pembangkit listrik, jaringan, fasilitas industri, bangunan, dan kendaraan memiliki masa operasional panjang yang dapat memengaruhi kebutuhan energi serta emisi selama beberapa dekade.
Oleh karena itu, keputusan investasi dan kebijakan yang diambil saat ini akan menentukan ketahanan energi, daya saing ekonomi, kebutuhan pembiayaan, dan tingkat emisi ASEAN setelah 2030. Laporan tersebut mendorong arah kebijakan regional jangka panjang yang lebih jelas dan berkesinambungan dalam setiap siklus ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC), dengan tetap memperhatikan kondisi masing-masing negara.
"Keberhasilan atau kegagalan transisi akan ditentukan pada tahap implementasi. ASEAN kini membutuhkan rangkaian proyek yang layak dibiayai, jaringan listrik yang lebih kuat, serta aturan pasar yang memberikan kepastian bagi investor untuk merealisasikan investasi dalam skala besar. Setiap siklus APAEC harus membawa kawasan ini semakin dekat menuju sistem energi jangka panjang yang terintegrasi," tambah Dato’ Razib Dawood.
AEO9 disusun oleh ACE bersama para ahli nasional dari negara-negara anggota ASEAN dan Regional Energy Policy and Planning Sub-Sector Network. Laporan tersebut menggabungkan analisis permintaan dan pasokan energi regional dengan optimalisasi sektor ketenagalistrikan, serta mencakup seluruh negara anggota ASEAN hingga 2060.
Penyusunan laporan ini mendapat dukungan Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) Inggris melalui ASEAN-UK Green Transition Fund (GTF). Dukungan juga diberikan Pemerintah Australia melalui ASEAN-Australia Energy Cooperation Programme (AAECP) di bawah Australia for ASEAN Futures Initiative (Aus4ASEAN Futures), serta Pemerintah Norwegia melalui ASEAN Climate Change and Energy Project (ACCEPT) Fase II di bawah Norway–ASEAN Regional Integration Programme (NARIP).
Sejumlah lembaga mitra turut berkontribusi, termasuk Columbia Center on Sustainable Investment (CCSI) di Columbia University dan Bank Dunia melalui Multi-Phase Programmatic Approach: Accelerating Sustainable Energy Transition (MPA ASET). Selain itu, Stockholm Environment Institute (SEI) memberikan dukungan keahlian teknis dalam pemodelan energi.
ACE mengapresiasi kontribusi seluruh mitra yang terlibat dalam penyusunan laporan tersebut. Dukungan itu dinilai membantu memperkuat analisis energi regional, pemodelan, pengembangan kebijakan, serta peningkatan kapasitas di kawasan ASEAN.
Laporan lengkap 9th ASEAN Energy Outlook dapat diakses melalui https://go.aseanenergy.org/publication-aeo9. Sementara itu, ringkasan eksekutif laporan tersedia di https://go.aseanenergy.org/summary-aeo9.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!