Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

ASEAN Energy Outlook 9: Konsumsi Energi ASEAN Bisa Dipangkas Hampir Separuh

3 Selasa, 13 Okt 2026, 16:45 WIB | Oleh:
ASEAN Energy Outlook 9: Konsumsi Energi ASEAN Bisa Dipangkas Hampir Separuh ASEAN Energy Outlook 9: Konsumsi Energi ASEAN Bisa Dipangkas Hampir Separuh Doc: Istimewa
Ket. ASEAN Centre for Energy (ACE) resmi meluncurkan 9th ASEAN Energy Outlook (AEO9), laporan yang menyoroti tantangan dan peluang ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara hingga 2060.

JAKARTA - ASEAN Centre for Energy (ACE) resmi meluncurkan 9th ASEAN Energy Outlook (AEO9), laporan yang menyoroti tantangan dan peluang ketahanan energi di kawasan Asia Tenggara hingga 2060. Laporan tersebut menekankan pentingnya pengelolaan permintaan energi, integrasi infrastruktur lintas negara, serta mobilisasi investasi secara kolektif untuk menghadapi peningkatan kebutuhan energi.

Dalam skenario dasar atau Baseline Scenario (BAS), konsumsi energi final ASEAN diperkirakan melonjak dari sekitar 485 juta ton setara minyak (million tonnes of oil equivalent/Mtoe) pada 2025 menjadi 2.047 Mtoe pada 2060. Kenaikan ini dipicu oleh pertumbuhan industri, angkutan barang, kebutuhan pendinginan rumah tangga, pembangunan perkotaan, hingga meningkatnya penggunaan layanan digital.

Di sisi lain, posisi perdagangan bahan bakar fosil ASEAN diperkirakan semakin tertekan akibat meningkatnya ketergantungan terhadap impor minyak dan melemahnya daya saing ekspor bahan bakar fosil lainnya. Situasi tersebut dapat membuat kawasan lebih rentan terhadap gangguan eksternal yang berpotensi meningkatkan biaya energi dan membebani berbagai sektor perekonomian.

AEO9 membandingkan tiga skenario untuk menggambarkan kemungkinan arah perkembangan sistem energi ASEAN, yakni Baseline Scenario (BAS), AMS Target Scenario (ATS), dan ASEAN Coordinated Transition Scenario (ACTS). Ketiga skenario ini bukan prediksi pasti, melainkan gambaran berdasarkan perbedaan tingkat penerapan kebijakan, pencapaian target nasional, pemanfaatan teknologi, investasi, dan kerja sama regional.

Berdasarkan BAS, konsumsi energi final ASEAN diperkirakan mencapai 2.047 Mtoe pada 2060. Penerapan kebijakan dan target nasional dalam ATS berpotensi menekan angka tersebut menjadi 1.482 Mtoe, sedangkan skenario ACTS dapat menurunkannya lebih jauh menjadi 1.073 Mtoe melalui percepatan efisiensi energi, elektrifikasi, dan peralihan bahan bakar.

Dengan demikian, konsumsi energi dalam ACTS diperkirakan hampir separuh lebih rendah dibandingkan BAS. Pengurangan kebutuhan energi tersebut tetap diarahkan untuk mendukung pembangunan ekonomi regional melalui bauran pasokan yang lebih beragam, pengembangan energi terbarukan, penguatan jaringan listrik, serta integrasi sistem energi antarnegara.

"Ketahanan energi ASEAN tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak energi yang dapat kita produksi atau impor, tetapi juga oleh seberapa efisien kita menggunakannya dan seberapa terintegrasi sistem energi kita. AEO9 menegaskan bahwa koordinasi regional kini menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan energi tetap terjangkau, andal, dan berketahanan seiring meningkatnya permintaan," ujar Direktur Eksekutif ASEAN Centre for Energy, Dato’ Ir. Ts. Razib Dawood.

Perbandingan ketiga skenario menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus selalu diikuti kenaikan konsumsi energi dalam skala yang sama. Efisiensi energi dapat mengendalikan permintaan, sementara elektrifikasi dan peralihan bahan bakar memungkinkan kebutuhan masyarakat serta industri dipenuhi dengan cara yang lebih efisien.

Dalam skenario ACTS, porsi listrik dalam konsumsi energi final ASEAN diperkirakan mencapai 57,2 persen pada 2060. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi dalam BAS yang hanya sebesar 22,6 persen, sehingga elektrifikasi menjadi salah satu komponen penting dalam transformasi sistem energi kawasan.

Untuk mencapai perubahan tersebut, ASEAN perlu menjadikan pengelolaan permintaan sebagai bagian utama dari kebijakan transisi energi. Penerapan standar efisiensi yang lebih tinggi, elektrifikasi, serta penggantian teknologi pada waktu yang tepat dapat mencegah penggunaan peralatan dan infrastruktur yang tidak efisien dalam jangka panjang.

Langkah tersebut juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor dan menekan kebutuhan pembangunan infrastruktur pasokan energi baru yang berbiaya tinggi. Dengan mengendalikan permintaan sejak awal, negara-negara ASEAN dapat mengarahkan investasi menuju sistem energi yang lebih efisien sekaligus mendukung daya saing ekonomi.

Selain mengelola permintaan, ASEAN perlu mempercepat transformasi sektor ketenagalistrikan untuk memperkuat pasokan energi bersih. Kawasan ini menargetkan energi terbarukan mencapai 45 persen dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang pada 2030, sehingga dibutuhkan penambahan kapasitas sekitar 26 gigawatt (GW) setiap tahun atau hampir empat kali lipat dari laju penambahan tahunan sebelumnya.

Tantangan yang dihadapi adalah potensi energi terbarukan, pusat konsumsi energi, dan sumber fleksibilitas sistem tersebar secara tidak merata di antara negara-negara anggota. Karena itu, pengembangan jaringan listrik domestik perlu berjalan seiring dengan pembangunan penyimpanan energi, peningkatan fleksibilitas sistem, dan penguatan ASEAN Power Grid.

Interkoneksi listrik lintas negara memungkinkan anggota ASEAN memanfaatkan perbedaan sumber pembangkit dan pola permintaan energi. Sistem yang saling terhubung juga dapat membantu penggunaan sumber daya secara lebih efisien serta meningkatkan keandalan pasokan listrik di kawasan.

Untuk memaksimalkan manfaat tersebut, negara-negara ASEAN membutuhkan perencanaan infrastruktur yang terkoordinasi, standar teknis yang selaras, dan aturan pasar yang mendukung perdagangan listrik lintas batas. Kerja sama tersebut menjadi penting agar integrasi jaringan dapat berjalan secara andal dan memberikan manfaat bagi negara-negara yang terlibat.

Transformasi energi ASEAN juga membutuhkan pembiayaan dalam skala besar, tidak hanya untuk membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Skenario ACTS turut mendorong perubahan teknologi di sektor industri, transportasi, bangunan komersial, dan rumah tangga, termasuk pembangunan jaringan listrik domestik maupun lintas negara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Olahraga
Terus Terpuruk, Ten Hag Seb...
Luar Negeri
Harga Minyak Dunia Turun Dr...

Jakcraft Ruang UMKM Promosikan Produk Unggulan

34 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakcraft Ruang UMKM Promosi...
Luar Negeri
UNESCO Ungkap Fakta Mengeju...
Daerah
BPBD: Longsor di Lumajang S...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.