50 Tahun Tragedi Thammasat, Aktivis Muda Tailan Masih Hadapi Ancaman Penjara dan Pengasingan
Senin, 05 Okt 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim PenulisIa dan teman-temannya melihat hubungan yang jelas antara peristiwa 1976 dan kondisi saat ini. Meskipun militer tidak lagi memegang kendali pemerintahan, kekuatan konservatif masih memiliki pengaruh besar.
Nutthanit terlibat dalam demonstrasi yang dipimpin kaum muda pada 2020. Aksi tersebut menarik puluhan ribu orang ke jalan untuk menuntut perubahan demokratis dan reformasi monarki.
Pada 2022, ketika berusia 20 tahun, Nutthanit bersama sejumlah orang lainnya melakukan jajak pendapat terhadap warga yang melintas di Bangkok mengenai iring-iringan kendaraan kerajaan dan pelaksanaan kekuasaan kerajaan.
Aktivitas tersebut dan kegiatan politik lainnya membuatnya tiga kali dinyatakan bersalah berdasarkan pasal lese majeste. Para pengkritik menilai pasal tersebut ditafsirkan terlalu luas sehingga menjadi alat untuk menargetkan pihak yang berbeda pendapat.
"Sebagai seseorang yang menjalani setiap tahapan sistem peradilan, mulai dari polisi dan jaksa hingga pengadilan dan penjara, saya dapat mengatakan bahwa sistem ini tidak adil dan bobrok," kata Nutthanit.
Ketika banyak demonstran muda akhirnya berhadapan dengan pengadilan, mereka dibantu para pengacara, termasuk Krisadang Nutcharut, seorang penyintas tragedi Thammasat.
Menjelang peringatan tersebut, Krisadang mengungkapkan kekagumannya terhadap keberanian para aktivis muda. Kepada AFP, ia mengatakan reformasi terhadap aturan lese majeste merupakan sesuatu yang "tidak ada yang berani mengangkatnya pada generasi saya".
Gerakan protes tersebut kemudian mereda, dengan banyak aktivis dipenjara atau melarikan diri ke luar negeri.
"Memang, mereka dipenjara setelah berbicara, tetapi mereka berani berbicara," kata pria berusia 68 tahun itu.
'Kami Marah'
Monarki tetap sangat dihormati di Tailan, sebuah masyarakat yang sebagian besar masih tradisional, di mana pemerintahan konservatif terpilih pada tahun ini.
Ingatan mengenai pembantaian tersebut masih memicu emosi kuat dari pihak lain.
Chalermchai Majchaklam, kini berusia 73 tahun, merupakan mahasiswa sekolah kejuruan dari institusi yang menjadi rival Thammasat dan ikut melawan para demonstran.
Ia menuduh mahasiswa Thammasat menyerang polisi dan mahasiswa dari institusinya, serta mengatakan dirinya meyakini mereka berusaha menggulingkan monarki.
"Kami berada di sana karena mencintai monarki dan kami marah," katanya kepada AFP, seraya mengatakan dirinya akan melakukan hal yang sama lagi.
'Mati Demi Keadilan'
Thiraphop Tengprawat, 21 tahun, didakwa berdasarkan pasal lese majeste karena memasang spanduk satir di kampus Thammasat lainnya pada Oktober tahun lalu, setelah universitas membatalkan kegiatan mahasiswa menyusul wafatnya Ratu Sirikit, ibu dari raja Tailan saat ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!