50 Tahun Tragedi Thammasat, Aktivis Muda Tailan Masih Hadapi Ancaman Penjara dan Pengasingan
Senin, 05 Okt 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP
Bangkok - Lima puluh tahun setelah demonstrasi mahasiswa menentang kediktatoran berakhir dengan pembantaian, generasi terbaru demonstran di Tailan mengatakan mereka masih menghadapi berbagai ancaman, termasuk tuntutan hukum, hukuman penjara, atau pengasingan.
Nutthanit Duangmusit, 24 tahun, menghabiskan beberapa bulan dalam tahanan sebelum persidangan sebelum dinyatakan bersalah berdasarkan undang-undang pencemaran nama baik kerajaan yang ketat di Tailan. Ia merupakan salah satu dari hampir 300 orang yang didakwa berdasarkan pasal penghinaan terhadap kerajaan atau lese majeste sejak 2020.
Saat ini, Nutthanit bebas dengan jaminan sembari mengajukan banding atas putusan tersebut. Ia juga membantu mengorganisasi peringatan 50 tahun pembunuhan pada Selasa, 6 Oktober 1976, di Universitas Thammasat.
Dalam salah satu bab tergelap dalam sejarah modern Tailan, pasukan keamanan dan massa kelompok sayap kanan membantai para mahasiswa yang melakukan aksi protes di salah satu universitas terkemuka negara tersebut.
"Dulu, senjata ditembakkan dan tubuh-tubuh bergelimpangan di tanah," kata Nutthanit saat menemani AFP berkeliling kampus di Bangkok.
"Sekarang, kekerasan datang melalui hukum."
Pemerintah Tailan belum segera menanggapi permintaan komentar mengenai penggunaan langkah-langkah hukum terhadap para aktivis.
Penindakan keras 50 tahun lalu terjadi setelah kembalinya diktator militer Thanom Kittikachorn, yang digulingkan tiga tahun sebelumnya.
Para mahasiswa berkumpul di Thammasat untuk menentang kepulangannya. Pada dini hari 6 Oktober, polisi dan kelompok sayap kanan menyerbu kampus, menembak, memukuli, dan menggantung para demonstran.
'Berani Berbicara'
Jumlah korban tewas secara resmi tercatat 46 orang, meskipun para penyintas dan saksi meyakini lebih dari 100 orang tewas.
Tidak ada pejabat negara yang dimintai pertanggungjawaban.
Juru bicara pemerintah Ekkapob Pianpises mengatakan kepada AFP bahwa banyak orang yang terlibat dalam insiden tersebut telah meninggal atau tidak dapat ditemukan.
Menurutnya, pemerintah saat ini ingin mencari cara untuk mencegah terulangnya insiden kekerasan serupa.
"Kami tidak ingin melihat hilangnya nyawa terjadi hanya karena orang memiliki pendapat yang berbeda."
Peristiwa di Thammasat mendapat sedikit perhatian dalam buku-buku pelajaran di Tailan, sehingga generasi muda harus mempelajarinya dari para penyintas dan penelitian independen.
"Hal itu membuat kita mempertanyakan apakah kita diberi tahu kebenaran atau hanya apa yang ingin diketahui negara," kata Nutthanit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!