Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terdampak Kabut Asap, Kualitas Udara Singapura Terburuk di Dunia Pagi Ini

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 08:09 WIB | Oleh:
Terdampak Kabut Asap, Kualitas Udara Singapura Terburuk di Dunia Pagi Ini Doc: CNA
Ket. Pemandangan kabut asap dari Menara Bishan pada pagi hari tanggal 29 September 2026.

SINGAPURA - Kualitas udara di bagian tengah, selatan, barat, dan timur Singapura termasuk dalam kategori tidak sehat pada Selasa (29/9) pagi. Wilayah utara melampaui ambang batas pada pukul 7 pagi waktu setempat atau pukul 06.00 WIB.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.30 WIB, Singapura menempati posisi teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dengan indeks kualitas udara di angka 182. Posisi kedua adalah Kolkata, India di angka 180, dan di urutan ketiga Lahore, Pakistan, di angka 174.

Dilaporkan Channel News Asia, Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam di wilayah utara Singapura mencapai 101 pada pukul 7 pagi, sementara angka di wilayah tengah naik menjadi 155. 

Indeks Tekanan Udara (PSI) 24 jam untuk wilayah tengah dan selatan pertama kali mencapai 104 dan 103, masing-masing, pada pukul 8 malam hari Senin.

Kualitas udara di wilayah barat memasuki kategori tidak sehat pada pukul 9 malam, dengan indeks PSI 101.

Kualitas udara di wilayah timur kemudian merosot ke kategori tidak sehat pada tengah malam hari Selasa.

Dalam beberapa minggu terakhir, pembacaan PSI naik turun di dalam kisaran tersebut. Terakhir kali kualitas udara di kelima wilayah tersebut berada dalam kisaran tidak sehat adalah pada tanggal 15 September.  

Dalam pengumuman terbarunya pada Senin (28/9) malam, Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura mengatakan, PSI 24 jam diperkirakan berada dalam kisaran moderat tinggi hingga agak tidak sehat untuk 24 jam ke depan.

Menurut NEA, kabut asap sedang hingga tebal dari kebakaran di Sumatera bagian selatan dan Kalimantan tertiup hingga ke Singapura.

Meskipun hujan diperkirakan akan turun di Singapura pada hari Selasa, tetap ada risiko kabut asap yang mempengaruhi negara tetangga Indonesia ini, angin yang diperkirakan bertiup dari timur atau tenggara. 

Indeks Kualitas Udara 24 Jam (PSI 24 jam) adalah indikator kualtas udara harian Singapura   dan menjadi dasar dari imbauan kesehatan harian NEA. Indeks ini dihitung menggunakan enam polutan udara - PM2.5, PM10, ozon, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan karbon monoksida. 

Di sisi lain, pembacaan PM2.5 1 jam adalah rata-rata per jam dari tingkat polutan PM2.5.

PM2.5 adalah partikel halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih pendek, dan merupakan polutan dominan selama kabut asap yang membahayakan kesehatan.

Sementara PSI 24 jam merupakan rata-rata dari 24 jam terakhir, pembacaan PM2.5 satu jam mencerminkan kualitas udara pada satu titik waktu tertentu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Megapolitan
Menteri PKP Janji Percepat ...
Megapolitan
Sawah di Bekasi Alami Keker...
Advertisement
Terkait Meninggalnya Taruna, Politeknik Pelayaran Malahayati Lakukan Penelusuran Internal dan Siap Dukung Proses Penyelidikan 

Terkait Meninggalnya Taruna, Politeknik Pelayaran Malahayati Lakukan Penelusuran Internal dan Siap Dukung Proses Penyelidikan 

29 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.