Situs Pasemah, Jejak Megalitikum di Lereng Gunung Dempo
📅 Jumat, 18 Sep 2026, 07:38 WIB | Oleh: Haryo BronoPada batu tersebut digambarkan seekor gajah dan hewan yang diidentifikasi sebagai babirusa, sementara pada kedua sisi batu terdapat figur manusia. Salah satu figur manusia digambarkan berjongkok dan memegang bagian tubuh gajah. Tak lupa, detail seperti kalung dan gelang juga tampak pada figur manusia tersebut.
Cara memahat semacam itu menunjukkan bahwa batu alam tidak selalu diperlakukan sebagai bahan mentah yang harus dibentuk ulang sepenuhnya. Pemahat seolah berdialog dengan bentuk batu yang sudah tersedia, lalu menemukan sosok manusia dan hewan di dalamnya. Di situlah salah satu keindahan seni megalitik Pasemah. Batu bukan sekadar material, melainkan bentuk alaminya ikut menentukan bentuk karya.
Manusia, Hewan, dan Lingkungan
Hewan memiliki tempat penting dalam dunia visual Pasemah. Selain gajah, berbagai arca menggambarkan atau diasosiasikan dengan kerbau, babirusa, harimau, buaya, dan hewan lainnya. Hubungan antara manusia dan hewan terlihat dalam berbagai komposisi, sehingga arca tidak hanya menjadi gambaran sosok manusia secara individual.
Hal ini membuka kemungkinan pembacaan yang lebih luas mengenai kehidupan masyarakat masa lalu. Hewan mungkin berkaitan dengan lingkungan tempat mereka hidup, sumber pangan, simbol kekuatan, atau bagian dari sistem kepercayaan. Namun, makna setiap arca tidak selalu dapat dipastikan hanya berdasarkan bentuk visualnya.
Karena itu, arca Pasemah lebih tepat dilihat sebagai bagian dari konteks budaya yang lebih besar. Penempatan arca, hubungan dengan dolmen, menhir, kubur batu, maupun struktur lain, serta lingkungan di sekelilingnya merupakan bagian penting untuk memahami tinggalan tersebut.
Penelitian arkeologi juga menunjukkan bahwa beberapa arca memiliki hubungan dengan struktur megalitik lain di sekitarnya. Dengan kata lain, arca tidak berdiri sendirian, melainkan berada dalam sebuah ruang yang dahulu kemungkinan memiliki fungsi sosial maupun ritual.
Dataran Tinggi di Kaki Gunung
Untuk memahami Pasemah, wisatawan perlu melihat lebih jauh daripada batu-batunya. Lanskap tempat tinggalan tersebut berada merupakan bagian dari dataran tinggi di sekitar Gunung Dempo. Gunung api ini menjadi salah satu penanda geografis utama kawasan.
Catatan dari Balai Pelestarian Kebudayaan menunjukkan ketinggian Gunung Dempo sekitar 3.159 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara kawasan Pasemah tersusun atas lembah, perbukitan, dan dataran yang mengelilinginya.
Di sisi lain terdapat Pegunungan Gumai yang posisinya berada di timur laut. Di antara kawasan pegunungan itulah terbentuk dataran tinggi yang sejak masa lalu menjadi ruang kehidupan manusia.
Kondisi geografis tersebut membuat Pasemah memiliki karakter lanskap yang berbeda dengan dataran rendah Sumatera Selatan. Udara relatif sejuk, lembah dan lereng dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pertanian, sementara perbukitan memberikan latar bagi permukiman dan situs megalitik.
Ketika bergerak dari Lahat menuju Pagar Alam, perjalanan wisatawan pun perlahan berubah. Lanskap dataran rendah berganti menjadi perbukitan. Perkebunan dan persawahan muncul di sela-sela lereng. Gunung Dempo menjadi latar yang semakin dominan. Di tengah lanskap itulah batu-batu megalitik muncul—kadang berada di tengah sawah, di kebun, di punggungan bukit, bahkan tidak jauh dari permukiman masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!