Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Diminta Benahi Kualitas Investasi, Bukan Sekadar Kejar Angka

5 Kamis, 15 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Diminta Benahi Kualitas Investasi, Bukan Sekadar Kejar Angka Pemerintah Diminta Benahi Kualitas Investasi, Bukan Sekadar Kejar Angka Doc: antara
Ket. Sektor Ekonomi - Modal Besar Belum Dorong Pertumbuhan

Investasi masih didominasi pemerintah dan BUMN sehingga peran swasta harus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan.

Jakarta – Investasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, peningkatan nilai investasi belum sepenuhnya diikuti efisiensi pembentukan output dan penyerapan tenaga kerja formal. Karena itu, pemerintah harus membenahi kualitas investasi, bukan sekadar mengejar besarnya modal yang masuk.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi harus ditopang oleh investasi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat konsumsi masyarakat.

"Jadi kalau ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, sering kali banyak yang percaya bahwa ini memang harus didorong oleh investasi dulu, termasuk investasi ini punya dampaknya nanti ke lapangan kerja, termasuk juga ke konsumsi. Jadi harapannya di situ," ujar Faisal sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (14/10).

Menurut dia, pertumbuhan investasi pada periode kuartal I 2025 hingga kuartal II 2026 rata-rata mencapai 5,5 persen. Capaian tersebut dinilai positif, tetapi masih perlu ditingkatkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Faisal menjelaskan investasi selama ini lebih banyak ditopang pemerintah dan badan usaha milik negara (BUMN). Karena itu, pemerintah didorong memperkuat peran sektor swasta agar investasi dapat tumbuh lebih luas dan berkelanjutan.

"Ini memang saya pikir adalah mendorong investasi dengan memberikan sinyal kepada swasta, memberikan keyakinan pada swasta untuk inject lebih banyak menanamkan modal," katanya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani sebelumnya mengatakan Indonesia membutuhkan investasi hingga 13.000 triliun rupiah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen.

Rosan menyebut kontribusi investasi terhadap perekonomian Indonesia pada tahun sebelumnya rata-rata berada di kisaran 28–29 persen. Realisasi investasi pada 2024 tercatat sekitar 1.714 triliun rupiah, kemudian meningkat menjadi 1.931 triliun rupiah pada 2025. Pemerintah berharap peningkatan tersebut dapat memperluas kesempatan kerja, meskipun kualitas dan dampak investasi tetap perlu menjadi perhatian.

Rasio Investasi

Sementara itu, Peneliti Ekonomi CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet menilai rasio investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang bertahan di kisaran 30 persen, sementara pertumbuhan ekonomi masih sekitar 5 persen, menunjukkan tambahan modal belum menghasilkan output secara optimal.

Menurut Yusuf, persoalan utama Indonesia bukan semata-mata kekurangan investasi, melainkan kualitas investasi dan keterkaitannya dengan perekonomian domestik. Sebagian investasi masih terkonsentrasi pada sektor padat modal dengan nilai tambah relatif rendah sehingga nilai investasi yang besar belum tentu sebanding dengan penyerapan tenaga kerja maupun manfaat bagi industri dalam negeri.

"Hilirisasi, misalnya, memiliki nilai investasi besar, tetapi sebagian proyek masih terkonsentrasi pada mineral tertentu, menyerap relatif sedikit tenaga kerja, serta belum selalu menghasilkan transfer teknologi dan rantai pasok domestik yang kuat," jelasnya.

Data pemerintah menunjukkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia berada di angka 6,47 pada 2023–2024. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Malaysia sebesar 4,5, Tailan 4,4, Vietnam 4,6, dan Filipina 3,7.

ICOR menggambarkan besarnya kebutuhan modal untuk menghasilkan tambahan output. Semakin tinggi ICOR, semakin besar modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan tambahan output dalam perbandingan yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan investasi Indonesia tidak berhenti pada penghimpunan modal, tetapi juga mencakup efektivitas penggunaannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Perpanjang SIM Tanpa Ribet,...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

Halal Connect Digelar LPPOM, Buka Jalan UMKM Lokal Go Global!

04 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.