Mengapa 7.500 Obor Dinyalakan Saat HUT Kulon Progo? Ini Makna di Baliknya
Kamis, 15 Okt 2026, 01:07 WIB | Oleh: Marcellus Widiarto
Doc: Antara foto
KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, DIY menegaskan atraksi menyalakan 7.500 obor dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-75 menjadi simbol utama untuk mengobarkan semangat dan daya juang masyarakat dalam pembangunan daerah.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan, di Kulon Progo, Rabu, mengatakan nyala api obor melambangkan energi positif yang harus dihidupkan kembali di tengah-tengah masyarakat Kulon Progo.
"Api yang bisa kita tata dan kita kendalikan itu adalah spirit. Kalau api membakar diri, itu yang tidak bersemangat. Maknanya jelas, untuk membakar semangat agar kita semua lebih fokus," kata Agung Setyawan.
Penggunaan elemen api dalam momentum bersejarah ini dinilai memiliki makna filosofis yang mendalam serta dikelola secara aman dan terukur dalam sebuah gelaran budaya kolosal.
Bupati mengatakan pemadaman listrik secara singkat saat penyalaan obor dilakukan khusus demi mendukung suasana kesakralan dan kekhidmatan upacara malam.
Langkah tersebut tidak berlangsung lama dan sama sekali tidak menggambarkan kondisi serba terbatas bagi masyarakat secara umum.
Ia meminta berbagai pihak untuk tidak gegabah mengatasnamakan seluruh warga Kulon Progo dalam menyampaikan kritik di media sosial, karena masyarakat justru menyambut momen peringatan bersejarah ini dengan penuh antusiasme dan tidak ada penolakan dari warga sekitar tempat penyelenggaraan.
"Jangan mengambil kata warga atau mewakili masyarakat secara keseluruhan. Ini kan sebuah ide dan konsep acara upacara malam yang menarik. Tidak terus kemudian selamanya pakai obor, itu hanya momen sesaat setelah upacara untuk menghayati nilai sejarah," jelas Agung.
Terkait dengan berbagai pandangan dan respons netizen di media sosial, Agung mengaku perbedaan pendapat di tengah masyarakat merupakan hal yang biasa dan wajar dalam sebuah negara demokratis.
Ia menegaskan pemerintah daerah tidak pernah menutup mata atau tidak menghargai komentar publik, namun kritik di media sosial tidak boleh menghentikan langkah pemerintah untuk terus bekerja dan menghadirkan karya terbaik bagi daerah.
"Ya biasa saja, orang berkomentar kan boleh. Masa kita tidak menghargai komentar? Mengalir saja, nanti kan akan ketemu maksud dan tujuannya. Yang penting kita tidak melanggar aturan dan terus berjalan," kata Agung menegaskan komitmennya.
Agung juga menepis anggapan pemerintah daerah tidak sensitif terhadap isu penanganan kebutuhan dasar masyarakat, seperti penanganan krisis air bersih.
"Agenda kebudayaan dan penanganan masalah teknis masyarakat berjalan beriringan tanpa saling mengesampingkan," katanya.
Pada saat yang bersamaan dengan persiapan upacara, pemerintah kabupaten tetap bekerja keras menyelesaikan persoalan air bersih hingga ke daerah-daerah pelosok termasuk bupati secara langsung memantau dan turun ke lapangan hingga larut malam guna memastikan ketersediaan air bagi warga.
"Tadi malam saya masih mengawal penyelesaian masalah air sampai jam 11 malam, turun langsung ke pos-pos penanganan. Cari solusi jangka pendeknya agar langsung selesai, dan jangka panjangnya agar aliran air terus lancar sampai ke sana. Itu kerja riil yang terus kita jalankan," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo Joko Mursito membeberkan detail teknis penyelenggaraan Peringatan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo tersebut. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB di Alun-Alun Wates.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!