Kesederhanaan yang Menyimpan Arsitektur dan Kosmologi Kuno
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 07:27 WIB | Oleh: Haryo BronoJIKA dibandingkan dengan kemegahan Candi Prambanan, Candi Sambisari memang bukan tandingannya. Namun, kesederhanaan itu justru menyimpan karakter yang khas. Bentuk bangunannya, susunan ruang, arca, ornamen, hingga posisi lingga-yoni menunjukkan bahwa Sambisari merupakan bagian dari tradisi arsitektur Hindu-Siwa Jawa Tengah sekitar abad ke-8 hingga ke-9.
Yang menarik, Sambisari tidak berdiri sendirian. Karakter arsitekturnya memiliki hubungan erat dengan sejumlah candi di kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, terutama Candi Kedulan yang berada di Dusun Kedulan, Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian mengenai Candi Kedulan menunjukkan adanya kemiripan arsitektur yang cukup kuat dengan Sambisari. Keduanya memiliki bentuk yang relatif kompak. Berbeda dengan Prambanan yang memiliki tubuh tinggi dan menjulang, Sambisari memberikan kesan lebih mendatar dan kokoh.
Tubuh Candi Sambisari berdiri di atas kaki yang memiliki profil bertingkat. Di sekeliling tubuh candi terdapat selasar yang dibatasi oleh pagar langkan. Struktur ini menciptakan ruang transisi dari area luar menuju bangunan utama.
Menurut data Jogja Cagar, di atas lantai selasar terdapat 12 umpak, terdiri atas delapan umpak berbentuk bulat dan empat berbentuk persegi. Umpak-umpak tersebut diduga merupakan bagian dari konstruksi tiang kayu yang dahulu menopang struktur atap tertentu.
Detail ini menarik karena menunjukkan bahwa arsitektur candi batu tidak selalu berarti seluruh elemen bangunannya terbuat dari batu. Ada kemungkinan dahulu terdapat struktur kayu yang menjadi bagian dari komposisi arsitekturnya. Dengan demikian, apa yang kita lihat sekarang bukan sekadar sebuah “bangunan batu”, melainkan hasil perpaduan antara konstruksi batu dan elemen organik yang sudah tidak bertahan dimakan zaman.
Atap Bertingkat dengan Puncak Ratna
Salah satu bagian penting dari bentuk Candi Sambisari adalah atapnya. Elemen atap pada candi induk tersusun dalam tiga tingkatan. Ukurannya semakin mengecil ke atas, dan pada puncaknya terdapat mahkota berbentuk ratna.
Susunan vertikal semacam ini memberikan kesan bahwa bangunan bergerak dari bentuk yang berat dan lebar di bagian bawah menuju bentuk yang semakin ringan di atas. Secara visual, pola tersebut membuat candi terlihat seperti sebuah komposisi yang tumbuh mengarah ke langit.
Pada Sambisari, bentuk tersebut terlihat berbeda dari siluet Prambanan yang sangat menjulang. Sambisari lebih pendek, padat, dan terkonsentrasi. Karakter ini menjadi salah satu alasan mengapa Sambisari begitu menarik dalam studi perbandingan arsitektur candi Hindu-Siwa di Jawa Tengah.
Lingga dan Yoni
Jika ada satu bagian yang paling penting untuk memahami identitas Sambisari, bagian itu adalah lingga-yoni di ruang utama. Di dalam bilik candi induk terdapat yoni berukuran cukup besar. Cerat yoni mengarah ke utara, dan di bawah cerat tersebut terdapat pahatan naga. Di atas yoni, ditempatkan sebuah lingga.
Kehadiran lingga-yoni merupakan penanda yang sangat kuat mengenai karakter keagamaan Sambisari sebagai candi Hindu-Siwa. Dalam tradisi Siwa, lingga merupakan simbol manifestasi Dewa Siwa, sedangkan yoni menjadi pasangan simboliknya (Sakti/Parwati).
Karena berada di dalam ruang utama atau garbhagriha, keberadaannya bukan sekadar ornamen, melainkan pusat sakral bangunan. Dengan demikian, denah Sambisari sebenarnya mengikuti prinsip utama dalam arsitektur candi Hindu: semakin menuju ke pusat, ruang menjadi semakin sakral.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!