Ringankan Beban Umat, IAHN Mpu Kuturan Gelar Metatah Massal Gratis Bagi 351 Peserta
📅 Senin, 31 Agu 2026, 01:35 WIB | Oleh: AlfredBULELENG - Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja menggelar upacara metatah atau potong gigi massal ke-10 yang diikuti 351 umat Hindu di Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (30/8).
Ritual sakral yang bertujuan membantu meringankan beban masyarakat ini diikuti oleh peserta dari berbagai kabupaten di Bali hingga perwakilan dari Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.
"Sebanyak 351 peserta mengikuti upacara metatah bersama Ke-10 yang diselenggarakan di Kampus Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja," kata Ketua Panitia Pelaksana Metatah Ida Bhawati Dr. Ketut Agus Nova di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu.
Peserta kegiatan tersebut berasal dari Kabupaten Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan.
Selain dari Bali, peserta juga datang dari Kediri, Blitar, serta Nusa Tenggara Timur.
Metatah merupakan upacara potong gigi dalam agama Hindu yang dimaknai sebagai proses pengendalian sifat-sifat buruk dalam diri manusia sekaligus penanda kedewasaan secara keagamaan.
Ida Bhawati menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan upacara "penyekeban" atau "magekeb", yaitu prosesi persiapan dan penyucian diri sebelum pelaksanaan upacara utama.
Prosesi itu diawali dengan "mabiyakala", yaitu upacara pembersihan dari pengaruh negatif, "durmanggala" atau penyucian dari hal-hal yang tidak baik, serta "prayascita", yakni upacara penyucian lahir dan batin.
"Peserta kemudian mengikuti persembahyangan untuk memohon anugerah kepada Dewaning Tatah, yaitu manifestasi Tuhan yang diyakini memberikan perlindungan dan kelancaran dalam pelaksanaan upacara potong gigi," papar dia.
Rangkaian selanjutnya adalah "natab banten menek bajang", yaitu menerima dan memohon berkah melalui sarana persembahan dalam upacara menuju kedewasaan. Prosesi tersebut mencakup "ngeraja swala" bagi perempuan dan "ngeraja singa" bagi laki-laki sebagai simbol memasuki masa dewasa.
Peserta juga menjalani prosesi "mapetik", yakni pemotongan rambut secara simbolis, kemudian "merajah" atau pemberian simbol-simbol suci pada tubuh. Setelah itu, peserta menjalani prosesi metatah di balai yang telah disiapkan dengan didampingi keluarga masing-masing.
Setelah prosesi utama selesai, sulinggih melaksanakan "ngarga tirta", yaitu membuat atau memohon air suci, dan "mapedudusan", yakni upacara penyucian. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan "natab banten petatahan" atau menerima berkah dari sarana upacara metatah serta "pangubaktian", yaitu persembahyangan sebagai wujud bakti kepada Tuhan.
"Kegiatan ditutup dengan acara seremonial, sembah sungkem atau penghormatan kepada orang tua, serta pembacaan 'Parama Santi', yaitu doa penutup untuk memohon kedamaian dan keselamatan," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!