Manjakan Biota Laut, Pemprov Jakarta Perkuat Terumbu Karang, Bengkalis Menanam Mangrove
📅 Rabu, 26 Agu 2026, 07:23 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaIa pernah menjadi bagian dari orang-orang yang merusak mangrove. "Dulu kita perusak alam," katanya. Asep pernah menebang mangrove jenis teruntum untuk dijadikan bahan gading kapal dan dibawa ke Bagan Siapi-api. Pekerjaan itu memberinya penghasilan, tetapi meninggalkan rasa bersalah yang belum hilang. "Rasa berdosa itu memang ada," ujarnya.
Kini, ia merawat bibit-bibit yang kelak akan ditanam kembali di pesisir. Ia tahu mana bibit yang mulai menguning, mana yang terlalu banyak air, dan mana yang perlu dipindahkan agar dapat tumbuh lebih baik. Kadang ia bahkan berbicara kepada bibit-bibit itu.
"Kadang sempat ngomong juga sama bibit. Yang saya rasakan, kayaknya mereka mendengar," katanya sambil tersenyum kecil. Asep juga melihat kerusakan mangrove dari sisi lain. Menurutnya, berkurangnya hutan mangrove ikut memengaruhi kehidupan nelayan di kampungnya. "Hasil tangkapan nelayan itu tidak mencukupi kebutuhan," katanya.
Ia meyakini salah satu penyebabnya adalah rusaknya hutan mangrove yang selama puluhan tahun menjadi tempat berkembang biak ikan, udang, dan berbagai biota pesisir. Karena itu, ia ingin meninggalkan sesuatu yang berbeda. "Saya mau mewariskan satu karya yang bermanfaat untuk orang banyak."
Sebaiknya Anda baca juga:
Baginya, warisan tidak harus berupa rumah atau harta. Pohon-pohon mangrove yang kelak menahan abrasi dan menjadi tempat berkembang biaknya biota laut pun sudah cukup. "Walaupun kita tidak bisa memberikan banyak, kalau karya kita bermanfaat untuk orang banyak, itu sudah berarti," katanya.
Perjalanannya tidak selalu berhasil. Ia pernah menanam ribuan bibit, tetapi tidak satu pun bertahan. Sekitar 6.000 bibit mati. Sebagian tersapu ombak, sebagian tidak cocok dengan kondisi tanah, dan lainnya gagal berakar. "Kami malas menghitung yang mati. Yang penting terus," katanya.
Tanah tempat Asep membibit pun bukan miliknya. Ia hanya menumpang dengan izin pemilik lahan selama masih mampu menghidupi keluarga dan menjaga bibit-bibit tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada pula rasa sakit yang harus ia hadapi setiap kali berjalan dari rumah menuju kawasan mangrove. Kaki palsunya kadang menimbulkan nyeri hebat. Langkahnya terasa berat.
Namun, ketika tiba di kawasan mangrove, rasa sakit itu perlahan menghilang. "Setelah di alam, rasa sakit itu tidak ada," katanya. Ia menyebutnya sebagai "respon alam". Apa pun penjelasannya, Asep terus kembali. Tidak ada kata malas untuk pergi ke mangrove. Tidak ada alasan menunda pekerjaan sampai esok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!