Heart Aerospace ES-30, Pesawat Hibrida untuk Layanan Penerbangan Regional
📅 Rabu, 26 Agu 2026, 07:23 WIB | Oleh: Haryo BronoUPAYA mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan mendorong pengaplikasian berbagai teknologi baru, salah satunya pesawat bertenaga listrik. Salah satu proyek yang mendapat perhatian besar adalah ES-30 yang dikembangkan oleh Heart Aerospace, perusahaan asal Swedia yang berfokus pada pesawat regional hibrida-listrik.
Berbeda dari pesawat listrik berukuran kecil yang dikembangkan untuk penerbangan eksperimental atau jarak sangat pendek, ES-30 dirancang sebagai pesawat komersial regional dengan kapasitas 30 penumpang. Pesawat ini ditujukan untuk melayani rute jarak pendek yang selama ini didominasi oleh pesawat turboprop konvensional.
Heart Aerospace memosisikan ES-30 sebagai pesawat regional hibrida-listrik yang menggabungkan baterai dengan sistem pembangkit berbasis bahan bakar. Skema tersebut memungkinkan pesawat menggunakan tenaga listrik penuh untuk rute tertentu, sementara sistem hibrida dimanfaatkan ketika penerbangan membutuhkan jarak yang lebih jauh.
Pendiri sekaligus CEO Heart Aerospace, Anders Forslund, mengatakan bahwa ES-30 dikembangkan agar teknologi elektrifikasi dapat diterapkan secara nyata dalam penerbangan regional. “ES-30 adalah pesawat listrik yang benar-benar dapat digunakan oleh industri. Kami merancang pesawat yang efisien dari sisi biaya sehingga maskapai dapat memberikan layanan yang baik pada berbagai rute,” kata Forslund.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Heart Aerospace tidak hanya mengejar aspek pengurangan emisi, tetapi juga berusaha menjadikan pesawat listrik sebagai produk yang layak secara komersial.
Terbang 200 Kilometer
Salah satu keunggulan utama ES-30 adalah kemampuannya melakukan penerbangan tanpa emisi berbasis tenaga listrik hingga jarak sekitar 200 kilometer dengan kapasitas standar 30 penumpang.
Dalam konfigurasi hibrida, jarak terbangnya dapat mencapai sekitar 800 kilometer dengan 25 penumpang, sementara konfigurasi 30 penumpang memiliki jangkauan hibrida sekitar 400 kilometer. Waktu pengisian daya yang ditargetkan berada di kisaran 30 menit.
Angka tersebut membuat ES-30 lebih diarahkan untuk pasar penerbangan regional dibandingkan penerbangan antarkota jarak jauh. Rute-rute dengan jarak beberapa ratus kilometer menjadi segmen pasar yang paling sesuai untuk teknologi ini.
Pendekatan ini sekaligus menjadi solusi atas salah satu kendala terbesar pesawat listrik, yaitu keterbatasan kerapatan energi (energy density) baterai. Untuk penerbangan jarak jauh, baterai saat ini masih kalah efisien dibandingkan bahan bakar penerbangan konvensional. Oleh karena itu, Heart Aerospace memilih pendekatan hybrid-electric, bukan mengandalkan baterai sepenuhnya untuk seluruh misi penerbangan.
Empat Sistem Propulsi di Sayap
ES-30 dirancang dengan sistem propulsi listrik yang terintegrasi pada sayap. Energi utama berasal dari baterai yang menggerakkan motor listrik. Untuk penerbangan yang membutuhkan jarak lebih jauh, pesawat dilengkapi sistem Reserve Hybrid.
Sistem tersebut menggunakan dua turbogenerator untuk menyediakan energi tambahan bagi propulsi. Dalam konsep yang diperkenalkan Heart Aerospace, sistem tersebut juga kompatibel dengan sustainable aviation fuel (SAF).
Reserve Hybrid ini memungkinkan baterai tetap menjadi sumber energi utama, sementara sistem hibrida berfungsi memperluas jangkauan operasional pesawat. Pendekatan tersebut berbeda dengan pesawat konvensional yang sepenuhnya bergantung pada mesin pembakaran internal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!