Pendakian Gunung Sindoro, KPALH Gandawesi Bawa Pesan Jaga Alam.
📅 Senin, 24 Agu 2026, 20:15 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: KPALH Gandawesi
Pendakian Gunung Sindoro menjadi perjalanan yang bukan sekadar soal mencapai ketinggian bagi Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Gandawesi FPTI UPI. Bersama belasan anggota, mereka menapaki jalur gunung api di Jawa Tengah sembari membawa semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap alam, Jum'at-Minggu, 21-22 Agustus 2026..
Pendakian Gunung Sindoro itu diikuti 6 Anggota Biasa, 2 Anggota Muda, dan 4 Anggota Luar Biasa KPALH Gandawesi. Sebanyak 13 orang berada dalam satu rombongan, menempuh medan berbatu dan terbuka hingga mencapai kawasan puncak.
'Pendakian Gunung Sindoro ini bukan semata perjalanan mengesankan, tapi sekaligus menjadi ruang belajar. Anggota yang lebih berpengalaman dapat berbagi pengetahuan tentang perjalanan lapangan, sementara anggota muda memperoleh pengalaman langsung mengenai disiplin, ketahanan, dan tanggung jawab ketika berada di alam terbuka," ujar Ketua Dewan Pengurus KPALH Gandawesi, Muhamad Rizki, Senin, 24 Agustus 2026.
Tidak hanyak soal kebersamaan, ungkapnya, perjalanan ke puncak Gunung Sindoro itu juga sarat pesan tentang lingkungan. Gunung bukan sekadar latar untuk berfoto setelah mencapai ketinggian. Menurutnya, gunung merupakan ruang hidup yang harus diperlakukan dengan hormat.
"Jejak pendaki semestinya berhenti pada pengalaman dan kenangan, bukan meninggalkan sampah atau kerusakan. Terlebih saat musim kering seperti sekarang, perjalanan jangan meninggalkan bencana kebakaran hutan dan lahan. Tapi setiap perjalanan menjadi ruang untuk menempa disipilin anggota KPALH Gandawesi," tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari ketinggian Sindoro, lanskap luas terlihat seperti hamparan tanpa batas. Namun, pemandangan semacam itu sekaligus mengingatkan bahwa alam memiliki daya tahan yang terbatas. Semakin banyak orang datang ke gunung, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga jalur pendakian, vegetasi, sumber air, dan ekosistem di sekitarnya.
Rizki dan rombongan KPALH Gandawesi menjadikan pendakian sebagai bagian dari proses mempererat kebersamaan sekaligus menghidupkan kembali kesadaran bahwa kegiatan di alam bebas harus berjalan bersama etika lingkungan. Setiap langkah menuju puncak memiliki konsekuensi terhadap alam yang dipijak.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang dan berat, terbayar lunas saat menginjakkan puncak dengan tanah berbatu dan langit biru yang membentang luas. Terlebih, seluruh anggota KPALH Gandawesi tak lupa memakai syal merah yang menjadi aksen mencolok di tengah lanskap cokelat keabu-abuan menambah identitas bendera KPALH Gandawesi dibentangkan di puncak Gunung Sindoro.
Bagi Rizki, pendakian menjadi cara untuk berhadapan langsung dengan alam. Jalur yang menanjak, bebatuan yang tidak selalu stabil, serta perubahan kondisi medan mengharuskan setiap anggota menjaga ritme dan saling memperhatikan. Di gunung, kekuatan seorang pendaki tidak hanya diukur dari kemampuan mencapai puncak, tetapi juga dari kemampuannya menjaga rekan seperjalanan.
Juga belajar berinteraksi dengan pendaki lain di alam terbuka. Namun, menginjakkan kaki di puncak gunung bukan hanya tanda keberhasilan sebuah perjalanan. Bendera yang terbentang, syal merah yang melingkar di leher, dan wajah-wajah yang berseri menjadi penanda sebuah kebersamaan. Di balik puncak yang mereka tuju, ada pesan sederhana yang jauh lebih panjang umurnya: menikmati gunung berarti ikut menjaga agar keindahannya tetap ada untuk pendaki berikutnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!