Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BPS Ungkap Warga Bisa Minta Pembaruan Data jika Pengelompokan Desil Tidak Sesuai

📅 Minggu, 23 Agu 2026, 00:20 WIB | Oleh:
BPS Ungkap Warga Bisa Minta Pembaruan Data jika Pengelompokan Desil Tidak Sesuai Doc: RRI/Magdalena Krisnawati
Ket. Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti

JAKARTA – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan masyarakat bisa mengajukan pembaruan desil jika merasa tidak sesuai. BPS sudah punya mekanisme untuk melakukan perubahannya.

“Apabila masyarakat menemukan informasi mengenai diri atau keluarganya yang belum sesuai dengan kondisi sebenarnya, bisa menyampaikan pembaruan,” kata Amalia dalam pernyataan tertulisnya dikutip Sabtu (22/8).

Pembaruan, ucap dia, dapat disampaikan melalui mekanisme usul dan sanggah pada kanal resmi yang tersedia. Diantaranya Cek Bansos (cekbansos.kemensos.go.id) atau aplikasinya, SIKS-NG melalui operator desa/kelurahan, serta Cek DTSEN (dtsen-form.bps.go.id).

“Pengajuan pembaruan tidak berarti posisi desil berubah secara otomatis. Informasi yang disampaikan menjadi bagian dari proses pemutakhiran dan penghitungan kembali,” ujar Amalia.

Sehingga posisi desil tetap ditentukan berdasarkan data dan metode yang berlaku. BPS bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran data.

“Pemutakhiran data untuk menjaga kualitas DTSEN agar semakin mencerminkan kondisi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam memastikan informasi diri dan keluarganya sesuai kondisi sebenarnya juga menjadi bagian penting dari proses tersebut,” ujar Amalia.

DTSEN adalah Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. Didalamnya terdapat pengelompokan tingkat kesejahteraan relatif dari desil 1 hingga desil 10.

Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

Amalia menegaskan, relevansi DTSEN terus dijaga melalui pemutakhiran data. Perubahan pada satu indikator tidak otomatis menyebabkan perubahan desil.

“Karena berbagai karakteristik dipertimbangkan secara bersama sama dalam proses pemeringkatan,” ucap dia.

Pemutakhiran DTSEN dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber, antara lain data administrasi dan hasil sensus serta survei. Termasuk hasil pemutakhiran data oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, serta pengecekan lapangan (ground check), dan pembaruan yang disampaikan masyarakat melalui kanal yang tersedia.

Per 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 Tahun 2026 mencakup 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga. “Cakupan tersebut terus dimutakhirkan agar data semakin mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat terkini,” pungkas Amalia. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Menterinya aja kena OTT KPK :D
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
  • Bos Perusahaan AI Dunia Ingin Perlambat Pengembangan, Persaingan AS-Tiongkok Jadi Hambatan
    Sangat disayangkan melihat bagaimana niat baik untuk mengkaji ...
Nasional
Masalah Perampasan Aset Tin...
Ekonomi
BI: Rupiah Makin Mendunia B...
Olahraga
Raptors Resmi Pulangkan Kaw...
Megapolitan
Kebakaran TPAS Galuga Makin...
Daerah
Waspada HIV! Dinkes Bima Te...
Daerah
El Nino Bikin Satwa Liar Be...
Advertisement
BI: Rupiah Makin Mendunia Berkat QRIS Antarnegara

BI: Rupiah Makin Mendunia Berkat QRIS Antarnegara

16 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.