Kabut Asap Karhutla Ganggu Pelayaran di Pontianak, Kapal Barang Kurangi Kecepatan.
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 17:05 WIB | Oleh: Yebdi TrismarKabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu jarak pandang kapal angkutan barang yang beraktivitas di perairan Pontianak, Kalimantan Barat, terutama saat berlayar pada malam hari.
Kondisi tersebut membuat awak kapal meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi kecepatan untuk menjaga keselamatan selama pelayaran.
"Sudah terlalu mengganggu, apalagi kalau malam. Kalau siang tidak terlalu, masih nampak," kata awak kapal pengangkut sembako Aran saat ditemui di Pelabuhan Seng Hie, Pontianak, Jumat.
Ia mengatakan kapal tetap beroperasi meski kondisi jarak pandang menurun. Namun, kecepatan kapal harus dikurangi, terutama ketika kabut asap semakin tebal pada malam hari.
"Walaupun begitu kita tetap berlayar, cuma mengurangi kecepatan," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal serupa disampaikan awak KM Bapake, Umar. Ia mengatakan jarak pandang pada siang hari saat ini masih berkisar 50 hingga 100 meter, sedangkan pada malam hari kondisi lebih sulit sehingga awak kapal harus lebih berhati-hati.
"Kalau keadaan begini masih kelihatan 100 meter, 50 meter kalau siang. Kalau malam kita tidak menjamin, jadinya memperlambat kecepatan," katanya.
Umar mengatakan KM Bapake melayani rute Pontianak-Telok Batang-Seponti dengan membawa berbagai kebutuhan pokok. Waktu tempuh menuju tujuan dapat mencapai 24 jam sehingga kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi faktor penting yang harus diperhatikan selama perjalanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kalau dibilang mengganggu tidak juga, cuma kita harus benar-benar waspada," ujarnya.
Gangguan jarak pandang akibat kabut asap juga mulai dirasakan di sektor transportasi udara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat mencatat, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak pada pagi hari sempat turun di bawah satu kilometer.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar Soetikno mengatakan kondisi tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 hingga 07.00 WIB dan berpotensi menghambat aktivitas penerbangan, khususnya proses lepas landas dan pendaratan pesawat.
"Kalau untuk di Supadio itu pagi sekitar jam lima hingga jam tujuh memang kurang dari satu kilometer, dan tentunya itu bisa menghambat kegiatan take-off atau landing pesawat," katanya.
Menurut dia, jarak pandang di Bandara Supadio biasanya mulai membaik sekitar pukul 07.30 hingga 08.00 WIB dan kembali berada di atas satu kilometer sehingga masih memungkinkan untuk mendukung aktivitas penerbangan.
BMKG mengimbau masyarakat dan pengguna transportasi tetap mewaspadai dampak karhutla, menyusul kondisi cuaca kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!