Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sulit Kurangi Jurang Kaya dan Miskin tanpa Pertumbuhan Berkualitas

📅 Selasa, 18 Agu 2026, 01:35 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Kondisi terkini Tiongkok sedikit mengalami kemunduran, banyak sarjana dan master (S2) yang hanya jadi pekerja informal.

Hal itu yang memaksa Pemerintah Tiongkok saat ini mengekang kemajuan rakyatnya sendiri, takut akan demokrasi, takut akan kemandirian rakyatnya, mereka takut kehilangan kontrol.

Menanggapi hal itu, Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho mengatakan kondisi yang dialami Tiongkok sekarang, sama persis dengan yang dihadapi Indonesia saat ini.

Berdasarkan laporan Macro Poverty Outlook oleh Bank Dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai sekitar 171,8 juta jiwa atau 60,3 persen dari total populasi.

Angka tersebut dihitung menggunakan garis kemiskinan standar Purchasing Power Parity (PPP) sebesar 6,85 dollar AS per kapita per hari untuk negara berpendapatan menengah ke atas.

Kondisi tersebut membuat Indonesia sulit lolos dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap) jika pertumbuhannya tidak berkualitas.

Pertumbuhan yang tinggi tidak otomatis mengentaskan kemiskinan.

Apalagi, kontribusi utama pertumbuhannya dari konsumsi, barang impor pula.

Pertumbuhan yang tinggi sekalipun, tidak akan produktif untuk bisa mengentas kemiskinankan.

“Pertumbuhan yang tidak berkualitas, tidak akan bisa mengurangi jurang kaya dan miskin. Maka itu kita harus kembali ke ekonomi kerakyatan,” kata Hardjuno.

Koperasi desa katanya jangan disuruh menjual barang murah.

Koperasi yang digalakkan Pemerintah seharusnya memfasilitasi pembangunan daerah, membangun produksi pangan dan produksi industri, bukan bikin minimart.

Pemerintah Indonesia papar Hardjuno perlu melakukan evaluasi mendasar terhadap arah pembangunan nasional dengan kembali menempatkan ekonomi kerakyatan sebagai orientasi utama.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Bener bang,,, potongan 8% itu hanya omon omon ...
    Betul tuh bang banyak bacot,,Lebel aja 8% hasil ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Megapolitan
Solidaritas Sosial dengan K...
Megapolitan
Kondisi Perekonomian Jakart...
Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.