Sulit Kurangi Jurang Kaya dan Miskin tanpa Pertumbuhan Berkualitas
📅 Selasa, 18 Agu 2026, 01:35 WIB | Oleh: Tim RedaksiMenurutnya, pembangunan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekonomi, investasi, maupun besarnya proyek, tetapi harus dilihat dari sejauh mana hasil pembangunan memperkuat kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.
Konsisten pada Perencanaan
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai Indonesia saat ini seperti kehilangan arah pembangunan.
Pemerintah seharusnya kembali ke konsep ekonomi kerakyatan dengan belajar dari konsistensi perencanaan pembangunan seperti di negara-negara lain.
Kunci utama pembangunan jelas Esther terletak pada perencanaan yang jelas dan implementasi yang konsisten.
Ia menilai dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional sebenarnya sudah memuat arah yang tepat.
“Arah pembangunan untuk menuju Indonesia Emas adalah penguatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, peningkatan kualitas kesehatan, peningkatan investasi, penguasaan teknologi,” jelasnya.
Meski dokumen sudah jelas, Esther menyoroti sejumlah masalah dalam implementasinya.
Program yang tidak direncanakan kerap masuk ke dalam anggaran, terjadi tumpang tindih antar kementerian, hingga alokasi anggaran yang lebih berat untuk konsumsi.
“Implementasinya tidak seperti yang direncanakan. Ada beberapa program yang tidak direncanakan tapi masuk dalam anggaran, program antarkementerian dan instansi pemerintah tumpang tindih, alokasi anggaran lebih berat untuk konsumsi,” kata Esther.
Masalah lain adalah tidak adanya keberlanjutan rencana dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.
Setiap pemerintahan cenderung memiliki program unggulan sendiri.
“Selain itu keberlanjutan rencana dari periode pemerintahan satu ke pemerintahan selanjutnya tidak berjalan dengan baik. Setiap pemerintahan punya flagship program sendiri,” kata Esther.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (8)
18 Aug 2026, 13:07 WIB.
Ulasan yang sangat mencerahkan mengenai esensi pembangunan; hal ini mengingatkan kita bahwa akselerasi pertumbuhan makro yang tinggi tanpa dibarengi dengan inisiatif pemerataan fundamental di tingkat akar rumput, sebagaimana tergambar dalam studi kasus Tiongkok, pada akhirnya hanya akan menciptakan ilusi kemajuan tanpa benar-benar menutup jurang ketimpangan sosial di tengah masyarakat.
Balas18 Aug 2026, 15:43 WIB.
Betul. Pemerintah perlu evaluasi mendasar dengan menempatkan ekonomi kerakyatan di pilar utama nya
Balas18 Aug 2026, 15:43 WIB.
Saya pikir, setuju sekali bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka makro. Manfaat pembangunan juga harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga tingkat akar rumput. Tanpa pemerataan yang nyata, pertumbuhan ekonomi justru berisiko memperlebar kesenjangan sosial.
Balas18 Aug 2026, 15:44 WIB.
Setuju sekali. Pembangunan sejatinya bukan hanya soal seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.
Balas18 Aug 2026, 15:44 WIB.
Menarik, karena tidak hanya membahas dinamika politik dan ekonomi Tiongkok, tetapi juga mengajak kita bercermin pada kondisi Indonesia. Gagasan untuk kembali memperkuat ekonomi kerakyatan patut mendapat perhatian serius.
Balas18 Aug 2026, 15:44 WIB.
Zhu Rongji dan Jiang Zemin emang patut dicontoh nih
Balas18 Aug 2026, 15:46 WIB.
kyk nama artis dracin :)
Balas18 Aug 2026, 15:45 WIB.
Indonesia perlu mencontoh negara lain yg sdh terbukti mampu keluar dari jebakan middle income trap
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!