GIHES 2026: Pesantren Jadi Model Pendidikan Holistik untuk Menjawab Tantangan Zaman
📅 Selasa, 18 Agu 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisForum ini juga menghadirkan pembicara dari lima benua untuk membahas penguatan pendidikan holistik dan relevansinya dengan kebutuhan generasi mendatang.
Dari Asia dan Timur Tengah, sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain Prof. Nuri Tinaz dari Marmara University, Turki; Dr. Mahamood Shihab dari Anshar Training College for Women, India; Prof. Dato’ Ts. Dr. Norazah Mohd. Nordin dari Universitas Kebangsaan Malaysia; serta Prof. Ryoko Tsuneyoshi dari Bunkyo Gakuin University, Jepang.
Ryoko akan membahas dan membandingkan konsep Tokkatsu di Jepang dengan sistem pendidikan asrama Islam.
Dari Indonesia, forum tersebut juga didukung sejumlah tokoh pemerintahan dan akademisi, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Agama Nasaruddin Umar, serta Prof. Amin Abdullah dari UIN Sunan Kalijaga.
Para pembicara diharapkan membawa perspektif yang berbeda untuk memperkuat gagasan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi juga membentuk manusia secara utuh.
Jusuf Kalla Dukung GIHES 2026
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla turut menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan GIHES 2026. Ia mengapresiasi Gontor yang mulai menyusun peta jalan pendidikan untuk 100 tahun ke depan.
“Saya mendukung acara GIHES. Gontor berpikir untuk ke depan, 100 tahun ke depan,” kata Jusuf Kalla di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan terobosan karena lembaga pendidikan di Indonesia mulai memikirkan arah pendidikan bukan hanya untuk beberapa tahun ke depan, tetapi hingga satu abad mendatang.
Dukungan Jusuf Kalla juga tidak terlepas dari hubungan panjang keluarganya dengan Gontor. Ia mengatakan ayahnya, Haji Kalla, sejak era 1970-an memiliki kepercayaan besar terhadap sistem pendidikan pesantren tersebut.
“Bagi saya dan keluarga, terutama almarhum ayah saya, Gontor selalu menjadi harapan. Tahun 70-an, waktu ayah saya masih hidup, beliau meyakini bahwa sekolah terbaik itu cuma satu, yaitu Gontor,” ujarnya.
Jawab Krisis Karakter Generasi Muda
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Badan Wakaf Gontor Hidayat Nur Wahid mengatakan salah satu fokus GIHES 2026 adalah merespons fenomena kerapuhan mental yang semakin banyak dihadapi generasi muda dunia.
Menurut dia, kemajuan teknologi informasi yang pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan karakter, mental, dan kepemimpinan yang kuat. Ia menilai sebagian generasi muda menghadapi persoalan dalam hal kolaborasi, etos kerja, dan leadership.
“Kami melihat bahwa pendidikan holistik yang sejati itu ada di pesantren, di mana selama 24 jam penuh santri dibina mental, moral, dan soft skill-nya,” kata Hidayat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!