12,7 Juta Lulusan Tiongkok Masuk Pasar Kerja Saat AI Ikut Mengubah Peta Pekerjaan
📅 Senin, 17 Agu 2026, 18:47 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBEIJING - Sebanyak 12,7 juta lulusan perguruan tinggi diperkirakan memasuki pasar kerja Tiongkok pada 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah dan bertambah sekitar 480.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari The Guardian, masalahnya, pertumbuhan jumlah lulusan tidak sepenuhnya diikuti pertumbuhan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan mereka. Di saat yang sama, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi mulai mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah pekerjaan tingkat pemula.
Kondisi itu membuat lulusan baru menghadapi persaingan yang semakin ketat. Jasmine, 22 tahun, lulusan akuntansi di Shanghai, mengatakan telah mengirim sekitar 150 surat lamaran selama sebulan tetapi belum mendapatkan pekerjaan.
"Ini jauh lebih sulit daripada yang saya bayangkan. Kurangnya lowongan pekerjaan adalah salah satu masalahnya, dan persaingannya juga ketat, terutama untuk pekerjaan yang menawarkan libur akhir pekan dan jaminan sosial yang layak," kata Jasmine.
Tingkat pengangguran kaum muda Tiongkok juga masih tinggi. Data yang dikutip menunjukkan tingkat pengangguran kelompok usia 16-24 tahun mencapai 15,6 persen. Angka tersebut tidak mencakup mereka yang masih berstatus pelajar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Persoalan lain muncul dari ketidaksesuaian antara bidang pendidikan dan kebutuhan industri. Lulusan bidang humaniora, seni, bahasa asing, dan sejumlah bidang manajemen menghadapi pasar kerja yang semakin terbatas.
Tiongkok bahkan mengubah struktur pendidikan tingginya. Sepanjang 2021-2025, universitas di negara itu menghapus atau menangguhkan 12.200 program sarjana dan membuka sekitar 10.200 program baru. Lebih dari 30 persen program pendidikan tinggi mengalami penyesuaian.
Program baru banyak diarahkan ke bidang AI, robotika, semikonduktor, manufaktur maju, dan teknologi lainnya yang dianggap mendukung kebutuhan industri Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Charles Jeffery Sun, pendiri Tiongkok Education International, mengatakan perubahan tersebut berlangsung cepat karena sistem pendidikan tinggi Tiongkok sangat terpusat.
"Pendidikan tinggi di Tiongkok diatur secara terpusat. Ketika Beijing menetapkan arah strategis, implementasinya di ratusan universitas terjadi dengan cepat," kata Sun.
Menurut Sun, perubahan itu juga menandai pergeseran prioritas pendidikan tinggi Tiongkok.
"Selama beberapa dekade, pendidikan tinggi di Tiongkok terutama berfokus pada akses, yaitu memasukkan lebih banyak mahasiswa ke universitas. Fase selanjutnya harus berfokus pada kualitas dan relevansi," ujarnya.
Namun, perubahan teknologi juga menciptakan persoalan baru. Seorang peneliti Economist Intelligence Unit (EIU) mengatakan pergeseran ekonomi China menuju manufaktur bernilai tinggi telah menciptakan ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dan kebutuhan perusahaan.
"Seiring pergeseran ekonomi, muncul ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki lulusan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!