Literasi Keuangan Naik, Tapi Utang dan Gaya Hidup Konsumtif Generasi Muda Jadi Sorotan
📅 Kamis, 13 Agu 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta – Pendalaman sektor keuangan Indonesia dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan literasi masyarakat. Tanpa pemahaman finansial yang memadai, perluasan akses terhadap kredit dan berbagai layanan keuangan justru berpotensi meningkatkan risiko keputusan keuangan yang tidak sehat.
ASEAN Economist United Overseas Bank (UOB) Enrico Tanuwidjaja mengatakan Indonesia masih memiliki ruang besar untuk memperdalam sektor keuangan. Sejumlah indikator menunjukkan tingkat kedalaman dan akses keuangan Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN.
“Indonesia itu penetrasi kreditnya paling rendah. Artinya apa, masih banyak yang bisa digali,” kata Enrico dalam UOB Media Editors Circle 2026 di Jakarta, Rabu (12/8).
Berdasarkan data komparatif UOB yang bersumber dari Bank Dunia, rasio utang swasta terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia baru mencapai 36 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Filipina sebesar 48 persen, Malaysia 117 persen, Singapura 129 persen, dan Thailand 154 persen.
Kondisi serupa terlihat dari kapitalisasi pasar perusahaan domestik terhadap PDB. Indonesia tercatat sebesar 46 persen, sementara Filipina mencapai 59 persen, Malaysia 94 persen, Thailand 122 persen, dan Singapura 124 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi kepemilikan rekening bank penduduk berusia 15 tahun ke atas, Indonesia juga masih tertinggal. Tingkat kepemilikan rekening tercatat 52 persen, hanya sedikit di atas Filipina sebesar 51 persen, tetapi jauh di bawah Malaysia 88 persen, Thailand 96 persen, dan Singapura 98 persen.
Adapun penduduk berusia 15 tahun ke atas yang melakukan atau menerima pembayaran digital di Indonesia baru mencapai 39 persen, sama dengan Filipina. Angka tersebut masih jauh di bawah Malaysia sebesar 76 persen, Thailand 88 persen, dan Singapura 93 persen.
Menurut Enrico, data tersebut menunjukkan masih besarnya potensi untuk memperluas pembiayaan dan pemanfaatan layanan keuangan di Indonesia. Namun, ia mengingatkan perluasan akses tidak boleh hanya mengejar peningkatan jumlah pengguna.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Jadi literasi finansial harus berjalan bersamaan dengan pendalaman finansial untuk membangun kesiapan finansial, baru kita akan bertumbuhnya very sound, very solid,” ujarnya.
Enrico secara khusus menyoroti perilaku konsumsi generasi muda yang semakin berorientasi pada pengalaman, seperti perjalanan dan hiburan. Menurut dia, tren tersebut tidak menjadi masalah selama diimbangi kemampuan mengelola keuangan secara bertanggung jawab.
Ia mengingatkan peningkatan konsumsi tanpa kebiasaan menabung dan perencanaan keuangan dapat meningkatkan ketergantungan terhadap utang, termasuk pinjaman daring.
“Kalau anak muda konsumtif doang itu half the good story. You need to be financially responsible. Kalau enggak sekarang nabung nih, jalan-jalan doang. Nah entar kalau enggak ada duit, ngutang terus, pinjol, whatever it is ya, itu enggak bagus,” ujarnya.
Karena itu, Enrico menilai pendalaman sektor keuangan seharusnya tidak berhenti pada semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan produk keuangan. Yang lebih penting, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memahami risiko, membandingkan produk, serta mengambil keputusan finansial secara tepat.
Hal tersebut menjadi penting karena data nasional menunjukkan masih terdapat jarak antara masyarakat yang sudah menggunakan layanan keuangan dan mereka yang benar-benar memahami produk tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!