Bantuan Pangan Berlanjut! 33,2 Juta KPM Dapat Beras dan Minyak Hingga September 2026
📅 Selasa, 11 Agu 2026, 14:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Stabilitas harga pangan terus menunjukkan perkembangan yang terjaga seiring dengan berbagai langkah yang dilakukan untuk memastikan pasokan tersedia dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau. Penguatan intervensi dari sisi pasokan, distribusi hingga harga terus dilakukan untuk mendukung daya beli masyarakat sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.
Salah satu dukungan utama dilakukan melalui penyaluran Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Per 8 Agustus 2026, realisasinya telah mencapai 610,3 ribu ton atau 73,71 persen dari target 828 ribu ton. Penyaluran tersebut turut memperkuat ketersediaan beras di berbagai daerah, dengan penyaluran terbesar berada di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Barat, serta Jawa Timur.
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Pangan Nasional (Bapanas) Kelik Budiana mengatakan berbagai langkah antisipasi terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pangan sepanjang 2026. “Sebagai antisipasi, aksi Badan Pangan Nasional untuk menjaga stabilitas harga pangan di tahun 2026 terus dilakukan.
Per 8 Agustus 2026, realisasi SPHP beras telah mencapai 73,71 persen atau 610,3 ribu ton,” ujar Kelik dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (10/8).
Penguatan stabilitas pangan juga diwujudkan melalui bantuan pangan bagi masyarakat. Pada Februari dan Maret 2026, setiap keluarga penerima manfaat (KPM) memperoleh 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng per bulan. Program tersebut menjangkau 33,2 juta KPM, dengan realisasi hingga 30 Juni 2026 mencapai 664,8 juta kilogram beras dan 132,7 juta liter minyak goreng atau 99,70 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Bantuan pangan ini dilanjutkan selama tiga bulan untuk periode Juli sampai september 2026 berdasarkan Rakortas Kemenko Pangan tanggal 9 Juni 2026, kepada penerima desil 1 sampai 4,” kata Kelik.
Akses masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau juga terus diperluas melalui Gerakan Pangan Murah yang dilaksanakan bersama para pemangku kepentingan. Hingga 7 Agustus 2026, kegiatan tersebut telah digelar sebanyak 7.586 kali dan menjangkau 38 provinsi serta 448 kabupaten/kota. Luasnya pelaksanaan kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan di berbagai wilayah.
Dukungan stabilisasi juga menyentuh sektor peternakan. Untuk menjaga harga jagung dan telur di tingkat peternak, SPHP jagung telah disalurkan kepada peternak telur ayam ras. Hingga 8 Agustus 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai 110.573 ton atau 45,93 persen dari target 213.200 ton.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dalam rangka stabilisasi harga jagung dan telur di tingkat peternak, Badan Pangan Nasional telah menyalurkan SPHP jagung pada peternak telur ayam ras. Penyaluran SPHP jagung ini dalam rangka stabilisasi harga telur dan daging ayam ras,” ujar Kelik.
Berbagai langkah tersebut berjalan seiring dengan pemantauan perkembangan harga pangan di tingkat produsen. Berdasarkan Panel Harga Pangan per 9 Agustus 2026, harga sejumlah komoditas tercatat berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) seperti bawang merah, ayam ras, sapi hidup, dan kedelai biji kering lokal yang menjadi bagian dari dinamika harga di tingkat produsen.
Perhatian juga terus diberikan terhadap harga telur ayam ras yang berada 12,78 persen di bawah HAP dan segera dilakukan intervensi. Pemantauan secara berkala memungkinkan langkah stabilisasi dilakukan sesuai perkembangan komoditas, sehingga keseimbangan harga dapat terus dijaga bagi produsen maupun konsumen.
Penguatan stabilitas pangan tersebut berjalan seiring dengan perkembangan inflasi nasional yang semakin baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen secara tahunan, turun dari 3,34 persen pada Juni 2026. Secara bulanan, Indonesia juga mencatat deflasi sebesar 0,14 persen.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan perkembangan tersebut merupakan kabar baik karena inflasi nasional masih berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus satu persen. Menurut dia, pengendalian harga pangan menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
“Good news nya adalah yang paling kita jaga betul ini masalah perut, yaitu makanan, minuman dan tembakau itu mengalami deflasi minus 0,89, artinya harga-harga relatif turun meskipun kita melihat bahwa ada beberapa komoditas yang menjadi penyumbangnya (inflasi), tapi komoditas penting seperti beras dan lain-lain relatif dijaga,” ujar Tito.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!